temu alumni pondok NGRUKI, 5 juli 2008
Assalamualaikum wr.wb
Pada acara temu alumni pondok kali ini, aku sangat bahagia. Selain pertemuanku dengan teman-teman, kakak-kakak, adik-adik sesame alumni dari berbagai pelosok dan kedatangan sahabat baikku( teman sekamar dan sekelas dipondok dan sekampus di UGM ) yang baru saja pulang dari Mesir setelah menjalani tugas dari fakultasnya (Ilmu budaya jurusan sastra arab), pembicara yang dihadirkan juga alumni-alumni yang keren-keren dan membuat semangatku untuk menuntut ilmu semakin menggebu-gebu. Belum lagi cerita kakak-kakak senior yang sudah malang melintang menghadapi berbagai macam permasalahan hidup dengan segala hikmah dibalik peristiwa yang terjadi juga semakin menyadarkanku akan banyak hal. Terimakasih, kakak-kakak….
Meski kedatanganku pada acara ini bisa dikatakan terlambat karena beberapa agenda lain harus kutunaikan lebih dulu, namun ada beberapa hal yang sempat kutangkap dari temu alumni kemarin. Sekedar berbagi, supaya teman-teman yang belum sempat hadir bisa membacanya.
Pertama, puji syukur yang patut kita haturkan kepada ALLAh yang atas ridlo-Nya lah forum alumni yang selama ini diidam-idamkan bisa terbentuk. Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya juga patut kita persembahkan untuk para founding father dan pengurus pertama IKAPPIM yang telah dengan susah payah mempelopori adanya forum alumni ini. perjuangan yang tidak ringan, karena harus mengumpulkan alumni sejak awal berdirinya pondok berpuluh-puluh tahun yang lalu sampai alumni yang terakhir. Padahal alumni tersebut sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia, sehingga untuk mencarinyapun bukan suatu hal yang mudah. Bertahun-tahun usaha yang telah dilakukan mulai menampakkan hasil, hingga akhirnya terbentuklah IKAPPIM (ikatan alumni ponpes islam Almukmin) ini. meski kekurangan masih banyak terdapat disana-sini, namun itulah yang menjadi tugas dan kewajiban kita (yang merasa sebagai alumni) untuk memperbaikinya.
Seringkali, dalam berbagai perbincangan dengan teman-teman alumni, banyak kritikan-kritikan, ungkapan kekecewaan terhadap pola pendidikan pesantren yang terlontar. Sayangnya, hasil pembicaraan itu hanya berhenti pada saat itu dan tidak ada tindak lanjut. Mungkin banyak sekali ide, saran, ataupun kritikan dalam benak masing-masing alumni untuk pondok namun belum dapat tersalurkan karena media yang belum tersedia. Adanya IKAPPIM ini, diharapkan dapat menjadi mediator yang menghubungkan almni dengan pihak pesantren sehingga kritikan dan saran tersebut dapat ditindak lanjuti. Hal ini masih mencakup dalam internal pesantren.
Masalah berikutnya adalah kesinergisan pemberdayaan alumni. Sebagai pondok dengan usia yang sudah cukup tua, alumni-alumni kita tidak diragukan lagi. Tersebar diberbagai bidang, pakar, dan daerah. Namun kesinergisan untuk menyatukan potensi-potensi tersebut guna memajukan almamater khususnya dan umat islam umumnya belum tampak. Masing-masing masih berjalan sendiri. Hal inilah yang akan dicoba untuk dibangun. Bagaimana potensi-potensi dari alumni dapat disinergiskan dan dioptimalkan untuk almamater dan ummat?
Kedua, ini yang paling ‘nyantol’ dikepala saya (soalnya disampaikan ketika rasa kantuk saya sudah hilang.he2x). pesan ini disampaikan oleh Ust.ahmad Zain An-najah (alumni ngruki, mantan ketua PCI muhammadiyah Mesir dan pengurus bag.Ghozwul Fikri DDII pusat) terkait dengan pola pendidikan pesantren. Cita-cita ustadz senior kita, ustadz abu bakar ba’asyir untuk menegakkan syariah, tentu saja tidak cukup hanya dengan mengandalkan alumni yang menjadi pengajar dipesantren. Penegakan syariah juga tidak cukup hanya dengan alumni-alumni pesantren yang menjadi pakar dalam bidang syariah (agama) saja. Keragaman alumni inilah yang sebenarnya merupakan sebuah potensi. Pesantren memang tidak harus mencetak orang-orang yang pakar dalam bidang ‘syariah’ seluruhnya. Adanya alumni yang menjadi dokter, guru, psikolog, ekonom, ARSITEK, dan sebgainya merupakan sebuah nilai plus tersendiri. basic keagamaan yang telah ditanamkan ketika dipesantren dan terus dipupuk, tidak hanya akan melahirkan pakar syariah, tapi juga dokter yang paham syariah, ekonom paham syariah, arsitek paham syariah, atau profesi apapun yang faham akan syariah.
Sudah saatnya paradigm alumni pesantren harus bergelut dibidang keagamaan dirubah. Pesantren harus mampu mengarahkan santrinya untuk mendalami dan menekuni bidang yang diminatinya dan memotivasinya untuk benar-benar mendalami disamping pemahaman terhadap agama yang juga harus dijadikan dasar. Pola pengajaran yang bersifat pemaksaan sudah tidak selayaknya diterapkan. Banyak contoh kasus yang disebutkan oleh pembicara tentang alumni-alumni ngruki yang ‘gagal’ kuliahnya di Mesir karena paksaan orang tua. Keinginannya untuk belajar kedokteran, ekonomi, ataupun ilmu umum lainnya harus terhambat oleh keinginan orang tua yang mewajibkan anaknya sebagai alumni pesantren untuk melanjutkan ke Al-azhar. Tidak jarang, karena rasa keterpaksaan ini, semangat belajar menjadi menurun dan tidak sungguh-sungguh. Akibatnya, hasil yang dicapai menjadi tidak maksimal. Ustadz mengutip sebuah ayat dalam alquran surat AL-isra’ : 84
84. Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya[Termasuk dalam pengertian Keadaan disini ialah tabiat dan pengaruh alam sekitarnya] masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalanNya.
Allah memerintahkan agar Muhammad saw menyampaikan kepada umatnya bahwa tiap-tiap orang itu bekerja menurut kemauannya sendiri-sendiri. Ada orang yang suka bersyukur kepada Allah setiap ia memperoleh nikmat dari pada Nya, dan ada pula orang yang mengingkari nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya; semuanya bekerja menurut tabiat, watak dan kecerdasan mereka masing-masing.
Dalam pada itu Allah SWT, Penguasa semesta alam mengetahui siapa di antara manusia yang mengikuti yang hak dan siapa di antara mereka yang mengikuti yang
semua akan diberi keputusan dengan adil; tidak ada seorangpun yang tidak memperoleh keputusan dengan adil dari Allah. Seandainya manusia ada yang tetap kafir, janganlah dipaksa beriman.
Allah berfirman :
قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ (135)
Artinya:
Katakanlah: “Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya, orang-orang yang lalim itu tidak akan mendapat keberuntungan”. (Q.S. Al An’am: 135)
Dengan demikian, yang perlu dibangun adalah budaya untuk semangat menuntut ilmu dan berbuat sesuatu yang dapat mendatangkan kebahagiaan dunia-akhirat. Adapun caranya diserahkan pada kemampuan, minat, dan bakat masing-masing. Caranya tidak mutlak harus dengan kuliah sampai S3, karena tidak jarang professor justru berbuat hal-hal yang tidak mendatangkan kebahagiaan dunia akhirat. Sedangkan Orang tanpa gelar juga tidak pasti intelektualnya rendah. Bisa jadi ilmunya justru lebih tinggi daripada professor dan rasa takutnya kepada Allah (sebagai ciri dari ulama) justru lebih besar.
Ustadz Zain juga memotivasi kepada alumni untuk pantang menyerah pada keadaan. Biaya pendidikan yang mahal, komersialisasi pendidikan jangan sampai menjadi penghalang untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Mengutip perkataan ustadz Nurhadi (mudir ma’had Aly) : Berkelit di era sulit >> MELEJITT…. Justru dengan semakin banyaknya himpitan seharusnya memacu semangat dan pengorbanan yang lebih ekstra sehingga nilai perjuangannya lebih tinggi dan insya Allah ilmu yang didapat bisa lebih barokah. Kemahalan pendidikan terjadi karena sistem. Dan sebagai orang yang tidak masuk dalam sistem, dan tidak bisa mengendalikan atau merubahnya, tidak sepantasnya hanya mengeluh dan menyerah. Untuk saat ini, carilah jalan dan celah untuk bisa mengatasinya. Jika sudah lolos dan berhasil, masuklah kedalam sistem dan rubahlah sistem itu.
Banyak alternative yang dapat dilakukan. Beasiswa dan bekerja, merupakan beberapa contoh pilihan yang dapat dilakukan. Dipenghujung acara, Ust. Zain juga menawarkan sebuah kabar gembira. Beliau menawarkan program DDII kerjasama dengan BAZNAS untuk ‘mencetak 1000 kader ulama’. 1000 kader ulama ini diharapkan akan muncul dari berbagai bidang, sehingga terbuka untuk semua jurusan, baik umum maupun keagamaan. Programnya adalah beasiswa 200 S3, 400 S2, dan 400 non gelar. Biaya sekolah akan ditanggung sampai lulus. Syaratnya mengirimkan CV ke bagian Ghozwul Fikri DDII pusat. CV yang masuk akan diseleksi. info ini masih belum dipublikasikan secara luas (masih info eksklusif, tapi karena pesertanya alumni Ngruki, sehingga ustadz memotivasi teman-teman alumni untuk berpartisipasi). Info lebih lanjut silahkan menghubungi bagian Ghozwul fikri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, pusat.
Sepertinya ini dulu yang bisa ditulis. Mohon maaf,hanya sedikit yang bisa dibagi dengan teman-teman, karena kedatangan saya juga tidak lama. untuk hasil muktamar dan formasi kepengurusan yang baru insya ALLAH menyusul, karena sebelum hasil muktamar dibacakan saya sudah meninggalkan lokasi acara dikarenakan ada keperluan mendesak (survey proyek). Sekian
Wassalamualaikum wr.wb
Nb : maaf, foto-fotonya tdk ada karena kamera ku sedang berobat




salam….
semoga selalu dalam kemanfaatan…:)
Assalamualaikum…
salam pembebasan… wah rasanya seneng haru dan bersemangat kalau temu dengan BOLO-BOLO di pondok dulu… kenalin Imawan Arif.(jember) aslinya sih boyolali…. kalau situ alumni ngruki angkatan berapa??? aku dulu di MMT trus aliyah-nya cuma sampai kelas dua, kelas tiga pindah…. kalau lulus ya jadi NIHA’i (kalau kawan-kawan pake istilah) 2003….
semanagat
dan Billahifisabilil Haq Fastabiqul Khoirot…. oooya mampir ke immteknik.org
reply:
wa’alaikumsalam…
sama-sama, kak…..dengan senang hati bisa bertemu dengan senior dipondok dulu. saya angkatan 2005. 6 tahun dipondok. Mts 3th, MAAM 3 tahun. alhamdulillah, sekarang melanjutkan di Arsitektur UGM yogyakarta. 2003?? wah, berarti seharusnya kenal dengan mas ivul dari sragen juga ya?? kebetulan adiknya (namanya Triyanti nurul) teman dekatku dipondok, dan sekarang sama-sama di UGM.
boyolali juga , tho?? kebetulan nih.. saya dulu TK dan SD 1 tahun di boyolali juga…
salam ukhuwah ya kak…
fastabiqul khoirot juga !!!
oh, iya….mampir juga di IMM-UGM.ORG
emang bener tuh kata pak zain annajah.
kalo belajar hanya disuruh ortu rata rata pada ga llulus kulna diazhar heheheeh
salam yaa
met belajar belajar n belajar
reply:
selamat belajar juga 
salam balik
assalamualikum wr.wb
salam kenal wuih…………….. akhirnya setelah sekian tahun g pernah tau apa itu internet, akhirnya tau juga, Ooooooo gini tho bisa buat ajang ketemu melepas rindu sesama alumni apalagi sama-sama alumni ngruki, perkenalkan aku Pc (biasa dipanggil temen-temen githu) aku angkatan 2006, kalo leh tau situ angkatan tahun berapa y, oiya namanya siapa. blogmu aku tautkan ke blogku ya, heheheheh
reply:
ow…salam kenal juga…
saya alumni 2005. dulu 6 tahun dipondok. skrg domisili di jogja. silahkan mentautkan blog saya.. mudah2an silaturrahim bisa tetap terjalin lewat dunia internet.
salam Santri Ngru-Q !!!
assalamu’alaikum,wr wb,,,,,kak aku juga alumni ngrki, dulu Mts 3 tahun trus ngelanjutin di aliyah 3 tahun,,,,bener2 kerasa enaknya di pondok ketika diluar kak, q sekarang alhamduliliah ngelanjutin ke perkuliahan, bio…n sekarang masih aktif di IMM “Revivilis”UIN malang, klo maen ke malang tar mampir kak,,Imm fathoni,Fastabiqul Khoirot,,,,,,,,,,,,,salam jehad
Nurul hidayat al barbarosa,,,,,,,,,,hidup ta’marbuto……trace,,,,,
assalamualikum……………Saya salah satu dari sekian alumni ngruki yang hari ini pengen bertemu dengan teman-teman yang lain.saya sendiri alumni 2003. saya sekarang berada di Ternate Maluku Utara. Bagi yang pengen hubungi saya. 085240050193.atau kewa_7@yahoo.com
Assalamu’alaikum Wr, Wb.
salam nostalgia…
aku irsyad, cma MTs doank sih tu jg ga smpe lulus, tp biar gimanapun jg aku tetep pernah ngerasain pahit manis’y d ngruki…
salam bwat angkatan 2002…
yg dr Mts angkatan 2002 ni email-ku icod112yahoo.co.id or no. ku 087882643583
sorry td email’y salah yg bner nieh icod11@yahoo.co.id
apa disini ada lulusan mutawasithoh? q lululusan taun 2003, dulu pernah wali kelasnya ma ustadz farid ghozali, ni no hp-ku, 085223463091 (ant_die@ymail.com)