panjang angan-angan
Ketika mendengarkan ceramah buya HAMKA yang ku download dari internet, ada perkataan BUYA yang menarik dan kebetulan saat itu tepat sekali dengan keadaanku yang sedang malas dan suka berangan-angan panjang. Kurang lebih, perkataan BUYA adalah sebagai berikut:
Kalau sudah malas, apa yang akan dikerjakan lagi?? Hanya duduk-duduk….Angan-angan banyak, cita-cita mati…
“Angan2 hendak terbang, padahal sayap tidak ada”.
Ada pepatah yang sangat terkenal dimasa penjajahan:
“Mati belanda karena pangkat, katanya
Mati cina karna kaya, katanya
Mati keling karena makanan, katanya
Mati melayu/ Indonesia karena angan-angan….>> karena malas
Memang, Kadangkala manusia itu berfikir yang aneh. dulu ketika kekeringan kita selalu mengharap-harap hujan,bahkan hamper setiap saat kita selalu bertanya kapan hujan datang, tapi akhirnya setelah hujan datang, pada awalnya sangat senang karena hujan telah turun. Tapi lama-kelamaan pertanyaan berubah , kapan panas datang? Dan seterusnya…dan seterusnya. Ada benarnya juga perkataan orang bijak : “kita itu merasa perlu sesuatu setelah seseuatu itu tidak ada.” Sehingga dari situ timbullah suatu sikap memikirkan hal-hal yang merugikan diri sendiri atau menimbulkan kegelisahan, ketidakpuasan terhadap apa yang ada.
Dan akhirnya, kita akan lebih banyak memikirkan dan menginginkan segala sesuatu yang tidak ada ditangan, sementara melupakan sesuatu yang ada ditangannya. Akibatnya, yang dirasakan dalam kehidupan ini adalah kekurangan dan kekurangan. Ketidakpuasan dan ketidak puasan. Karena selalu meng angan-angan kan segala sesuatu yang idak ada. Apalagi ketika pikiran kita tertuju pada orang disekitar kita, maka timbullah angan-angan kosong yang menjadikan hidup semakin tidak pasti dan timbullah berbagai macam pengandaian.
Seandainya aku orang kaya dan terkenal…
Seandainya dia menjadi pendamping hidupku….
Seandainya aku punya….,…..,…..
Seandainya …….seandainya…. dan masih berpuluh-puluh pengandaian yang kadang muncul dan timbul dalam hati dan otak, yang jika tidak diwaspadai maka akan membuat kita hidup diatas angan-angan dan pengandaian . sehingga sampai akhir kehidupan bisa-bisa kita tak akan pernah menemukan makna kehidupan dan yang ditemui hanyalah kesengsaraan yang berkepanjangan karena banyaknya angan-angan yang tidak kesampaian.
Pernah suau ketika, ketika saya berjalan kaki dari kampus ke kost, pada mulanya tidak terasa berat. Meskipun tas yang saya bawa cukup berat, namun udara pagi yang cukup segar membuat saya menikmati perjalanan dipagi itu. Namun, tiba-tiba kenikmatan itu hilang dan berjalan kaki itu menjadi terasa berat. Apa sebabnya?….sebabnya adalah : pada saat ditengah asyik berjalan, tiba-tiba banyak mahasiswa lain yang kekampus dengan kendaraan, entah mobil ataupun sepeda motor. Maka otak sayapun berfikir dan terisi oleh suatu angan-angan dan pengandaian : “seandainya aku punya sepeda motor, maka tak perlu berpayah-payah jalan kaki dengan memikul tas yang cukup berat. Seandainya…”
Ternyata benar, ketika angan-angan itu begitu kuat mencekam dan menggigit hati dan jiwa kita, pada saat itulah apa yang ada pada diri kita menjadi tidak nikmat lagi dan terasa berat. Sekali lagi, saya teringat perkataan orang bijak :
“banyak orang kehilangan sesuatu yang ia punya karena dia berfikir tentang sesuatu yang tidak dimilikinya. Benda ditangan ia lupakan, sedang benda diawan ia fikirkan”
Wahai diri….sadarlah, bahwa kemalasan seringkali berujung pada panjang angan-angan. Padahal itu merupakan penyakit yang sangat berbahaya. Sebab seandainya angan-angan itu menjadi kenyataan, belum tentu menjadikan kita baik atau bahkan bisa jadi menjadikan kita semakin jauh dari-Nya.
Cukuplah kisah sahabat rasulullah, saw yang bernama Tsa’labah menjadi pelajaran. Dimana ketika tsa’labah masih miskin, dia termasuk orang yang rajin beribadah. Meskipun setelah sholat dia selalu terburu-buru pulang, hingga Nabi pun bertanya tentang ketergesa-gesaannya itu. Tsa’labahpun menjawab : ya Rasulullah, pakaian yang saya pakai ini akan segera dipakai untuk sholat istri saya. Karna kami tidak mempunyai pakaian lain kecuali yang saya pakai ini. Maka saya selalu tergesa-gesa supaya istriku tidak terlambat sholat.” Rasulullah pun memahami alas an tsa’labah dan memakluminya.
Namun, karena tsa’labah termasuk orang yang dekat dengan Nabi, iapun memohon agar dido’akan menjadi orang yang kaya. Pada awalnya Nabi menolak dan mmenjawab : Tsa’labah, apakah tidak ada pada engkau, keinginan untuk mengikuti jejakku? (karena Nabi memang tidak pernah menyimpan harta). Tetapi Tsa’labah terus mendesak dan berkata : “Demi Tuhan yang mengutus engkau dengan kebenaran menjadi Nabi, jikalau sekiranya Engkau berdoa kepada ALLAh bahwa ia memberikan rezeki harta kepadaku, niscaya aku akan diberi-Nya. Dan setiap yang berhak, akan aku berikan haknya. Dan sesungguhnya kewajibanku akan kulaksanakan, dan hartaku pasti akan kusedekahkan.”
Dengan berat hati, rasulullahpun mendoakan tsa’labah dan diberinya ia seekor kambing sebagai modal. Berkat ketekunan tsa’labah dalam beternak, kambing itupun semakin berkembang biak dalam waktu yang singkat. Tsa’labahpun akhirnya menjadi orang yang kaya raya. Namun, bagaimana sikap Tsa’labah setelah menjadi orang kaya? Tsa’labah semakin disibukkan oleh hartanya, sehingga kewajibannya sedikit demi sedikit ia tinggalkan. Mulai dari ketinggalan sholat jama’ah, sampai tidak bersedia membayar zakat. (silahkan baca kisah tersebut secara rinci dalam kitab shiroh shahabat)
Demikianlah, bahkan seorang Tsa’labah yang ahli ibadah sekalipun, dekat dengan Rasulullah, bisa terlena karena angan-angannya menjadi kenyataan. Apalagi kita sebagai orang biasa yang tingkat ibadahnya tentu masih jauh dibanding beliau. Semoga ALLAH memberikan kesadaran pada diri kita “bahwa yang ada pada diri kita, itulah yang terbaik untuk kita dan harus kita syukuri. Sedang yang ada pada orang lain, biarlah itu untuk orang lain.” toh sering kali kita melihat pakaian yang indah dan mahal nampak anggun dipakai orang lain, namun belum tentu nyaman kita pakai atau bahkan jika kita pakai justru menyusahkan kita karena tak sesuai ukurannya. Mudah-mudahan kita selalu bisa mensyukuri apa yang ALLAH berikan dan terhindar dari penyakit iri hati dan angan-angan panjang. Amien
Sebagai penutup, ada hadits rasulullah saw yang diriwayatkan dari khodim beliau, Anas bin Malik, ra yang memberitahukan kepada kita tentang 4 hal penyebab kesengsaraan hidup, dimana jika salah satunya saja terdapat pada diri sesorang, maka bisa dipastikan hidupnya tidak pernah tentram, apalagi bahagia. Empat macam daripada kesengsaraan hidup itu adalah:
- · JUMUUDUL ‘AIN (mata yang seakan-akan mata benda/materialistis),
- · QOSWATUL QOLB (kesat hati, hati yang membatu dan sulit dinasehati),
- · AL-HIRSH (rakus, menginginkan yang lebih dari yang telah diberi)
- · THUULUL AMAL (panjang angan-angan, suka beranda-andai)
Untuk diriku :
belajarlah untuk Qona’ah dan bisa mengambil hikmah dari setiap peristiwa.




Betul, sesuatu terasa ada saat dia hilang…
Dan sesuatu itu bila tlah kita miliki,seringkali membuat kita lalai utk bersyukur…
Acapkali, dan bahkan sudah menjadi sebuah tradisi, satu hendak dua dan seterusnya. Lupa diri menjadi konsumsi, dan inilah hadiah yang harus diterima, semuanya berada dalam wilayah tak tahu harus kemana, dan lagi-lagi…kita berhadapan dengan bencana…kenapa?…Syukur yang telah sirna…
Bener bgt tch, gw jg sering berandai-andai.. N’ gw srng ngrasain klo gw ga mnsyukuri apa yg telah d’berikan Allah skrg pd diri gw.. Salut, thanks,, ini bisa jd bahan renungan buat gw..