teruntuk : kakakku nun jauh di pulau sebrang
Hari itu aku sangat kaget dan tidak menyangka akan bertemu kembali denganmu, kak. Setelah pertemuan terakhir kita dihari engkau dinobatkan menjadi seorang sarjana dan menyandang gelar ST (sarjana Teknik) , beberapa hari kemudian dirimu beranjak meninggalkan jogja. Jarak pulau dan lautan yang memisahkan kita mengakibatkan Komunikasi kita hanya terjalin lewat sms dan email. Bahkan emailpun sangat jarang, mengingat koneksi internet didaerahmu yang masih sulit diakses dan sangat mahal. Seringkali dirimu menanyakan kabar tentang kampus kita, sudut-sudut penuh kenangan dimana kita pernah merasakan indahnya kebersamaan. 5 tahun bukan waktu yang singkat. Banyak cerita suka, duka yang tentu tertoreh dan tak mungkin untuk dilupakan. Seringkali dari sms-sms yang engkau kirim, aku menangkap segurat kerinduan yang engkau rasakan. Maafkan adikmu yang terkadang ‘ketus’ membalas sms-sms itu. Seringkali pertanyaanmu yang panjang hanya kujawab dengan jawaban singkat. Bahkan janjiku untuk mengirimu email seringkali tidak kutepati sesuai dengan waktu yang telah kujanjikan. Mohon maafkanlah adikmu ini, kak…
Hingga, 2 pekan yang lalu, dirimu kembali hadir di kota ini. Spontan aku berteriak, dan mengusap kelopak mataku, seakan tak percaya apakah ini mimpi ataukah kenyataan. Dirimu sama sekali tak memberi kabar terlebih dahulu. Ternyata memang kedatanganmu ini surprise, kejutan. Engkau telah berhasil melewati tahap pertama seleksi penerimaan karyawan PT. Semen Padang, sehingga untuk mengikuti seleksi tahap kedua, engkau pun datang ke JAWA. Senang rasanya bertemu kembali. Banyak hal yang ingin kuceritakan padamu. Karena sejak awal aku memasuki dunia kampus, kemudian bertemu dan berkenalan denganmu, engkaulah kakak yang sangat banyak membantuku. Mengenalkanku akan dinamika kehidupan di kampus teknik yang sedemikian kerasnya, menemani dan mendampingiku menyelesaikan tugas-tugas dengan support-support dan nasehat-nasehat yang amat membantuku. Dan yang paling membuatku terkesan adalah ketika aku benar-benar goyah dan merasa tak sanggup melanjutkan kehidupan (baca : kuliah) dirimba teknik ini. Saat itu aku benar-benar bertekad akan pindah jurusan, dan mengikuti SPMB atau UM. Pikiranku kalut, ditambah euphoria di kalangan teman-temanku yang juga bernasib sama denganku. Saat itulah dirimu hadir, dan membuka mata serta pikiranku. Engkau yang melatihku berfikir dewasa, tidak memandang sempit sebuah permasalahan. Engkau pula yang menyelamatkanku dari tindakan nekat yang hamper aku lakukan dengan pertimbangan-pertimbangan yang kurang matang (hanya keinginan sesaat). Terimakasih, kak….
Kedatanganmu ke jogja kali ini ternyata tepat sekali dengan keadaanku, yang sedang menghadapi ujian akhir semester ditambah UJIAN lain yang sangat berat. Dimana ujian lain itu telah merong-rongku selama satu semester ini, dan aku tak berhasil menepisnya. Ujian itu tidak lain adalah KEMALASAN. Yah, semester ini aku sangat malas dan jenuh dengan ritual perkuliahan. Kuliah-kuliah yang ku ikuti serasa hambar. Tugas-tugas hanya kukerjakan dengan sekenanya. Semangat untuk berlomba dan berkompetisi dengan kawan-kawanpun menghilang. Parahnya, penyakit itu masih menempel hingga ujian menjelang.
Ujian pertamaku adalah DISPLAY studio perancangan dengan tugas besarnya berupa PROYEK PERANCANGAN AGRI-TECH HIGH SCHOOL di TEMBALANG, semarang yang lama pengerjaannya 1 semester. Beruntung dosen pembimbingku sangat baik dan teman-teman yang satu bimbingan denganku juga terlampau baik. Setiap kali kami membuat janji bertemu dengan dosen untuk konsultasi pekanan, aku selalu menghilang. Aku menghilang bukan tanpa alas an. Aku malu, menghadap dosen tanpa progress yang berarti, karena kemalasanku mengerjakan. Saat teman-temanku sudah mencapai tahap perancangan site plan, aku masih berkutat dengan pemilihan site. Kemajuanku sangat lambat. Ketika diriku menghilang, teman-temanku yang mengijinkan ku kepada dosen pembimbing dan mencarikan jadwal pengganti untuk konsultasi khusus denganku. Bagaimana aku tidak berhutang budi kepada mereka.
Namun lagi-lagi kemalasanku itu tak jua membuatku bangkit. Hingga 3 hari menjelang DISPLAY karya tugas besar ini, aku masih juga belum mengerjakan apa-apa. Padahal, disemester sebelumnya 2 pekan sebelum display bisa dipastikan aku sangat kelabakan. 1 pekan pertama berkutat dengan gambar, 1 pekan berikutnya berkutat dengan maket. Namun kali ini, sangat mengherankan. 3 hari menjelang display, aku masih bersantai-santai. Tiap kali laptop kubuka, bukan tugas yang kusentuh namun justru yang lainnya. kemana semangat itu harus kucari??hampir saja aku menentukan keputusan yang sama sekali tidak masuk akal. Aku akan mundur dari ujian. Pikirku saat itu, toh aku masih punya waktu untuk mengulangnya ditahun depan
Saat itulah aku baru teringat dirimu. aku minta waktu untuk bisa mengadukan keluh kesahku kepadamu. Memang engkau kakak yang sangat baik. Dirimu mau mendengarkan curhatanku di pagi itu. Hamper 2 jam aku bercerita dan seringkali membantah saran-saran yang kau berikan. Hingga perkataan terakhirmu yang membuatku tertohok. Kemunduranku dari ujian, itu tidak hanya akan berdampak pada diriku seorang. Mungkin aku masih bisa mengulangnya ditahun depan, tapi bagaimana dengan dosen pembimbingku yang telah dengan sabar memberikan waktunya terbuang untuk meladeniku karena sering menghilang pada waktu yang telah dijanjikan ? bagaimana dengan teman-temanku yang telah dengan sabar mengabariku setiap kali ada jadwal konsultasi, meng-smsku, menelponku, dan bahkan menanyakan acap kali aku menghilang. Perhatian yang sedemikian besar, akankah kubalas dengan kepengecutan ?dengan sifat pecundang? Lari dari ujian?? Aku tersadar….. bahkan akupun juga harus bertanggung jawab terhadap orang tuaku. Apa jawabanku jika ditanya alasanku lari dari ujian? Karena malas? Dapatkah jawaban ini diterima???
Dengan kesabaran seorang kakak, engkau memberiku semangat. “jangan menyerah, dik. Sekali engkau menyerah, kedepannya engkau akan lebih mudah menyerah”.ujian yang engkau hadapi ini belum seberapa. Masa-masa mengerjakan skripsi, apalagi masa-masa memasuki dunia kerja, akan semakin banyak tekanan yang engkau hadapi. Dan Dirimu tak boleh menyerah.” Engkau menceritakan bagaimana perjuanganmu menyelesaikan skripsi yang akhirnya menunda kelulusanmu menjadi 5 tahun. Sehari meninggalkan skripsi, untuk bisa kembali butuh waktu 3 hari. 3 hari meninggalkan, maka butuh waktu 1 pekan untuk bisa kembali. 1 pekan meninggalkannya, maka butuh waktu 2 pekan untuk bisa kembali. Semakin lama meninggalkan, akan semakin malas untuk kembali melanjutkan. Semakin menganggap enteng dan meremehkan, semakin lebih mudah menyerah dan semakin tidak selesai. Saat itu dirimu berkata : “sekarang belum terlambat, dik. Masih ada waktu 3 hari untuk mengerjakan. Kejarlah !!! jangan sia-siakan !! jangan buang-buang waktu lagi. STOP dulu kegiatanmu yang lain. fokuskan!! Kakak yakin dirimu pasti bisa!! Pagi ini, segera pulanglah !! sholat dluha, setelah itu, mulai, KERJAKAN!!!. Kakak tunggu laporannya setelah ujian besok !!”
Sungguh, kak… perkataanmu itu benar-benar bagaikan bom yang meledakkan bongkahan batu kemalasan yang selama ini bersarang dalam diriku. Kuturuti nasehatmu. Pulang, dan sholat dluha. Entahlah, sholat dluha kali itu sangat lain dari biasanya. Aku merasa mendapat pasokan energy yang luar biasa. Selepas sholat dluha, kubereskan kamar, kusingkirkan semua benda yang tidak berhubungan dengan persiapan display. Ku buka laptop, dan mulai kukerjakan. Entah kenapa, ide-ide itu mengalir dengan beruntun…. Padahal sebelumnya otakku sangat mampet. Ide-ide sulit untuk keluar. Namun, keanehan itu memang benar-benar terjadi. Tanganku bisa bekerja dengan cepat. Tak terasa malam hingga larutpun aku masih berkutat di depan laptop. Bahkan hingga pagi datang, aku mampu tidak beristirahat. Mungkin hanya tidur 1 jam, makan, sholat, lantas bekerja kembali. Begitu seterusnya selama 3 hari.
Tak kusangka, pada saat display, aku mampu untuk hadir meski dengan hasil yang tidak seberapa (setidaknya memenuhi syarat minimal). Namun aku sangat puas. Puas karena berhasil melawan kemalasan, puas karena aku berhasil melewati tekanan. Puas karena aku berhasil untuk tidak menyerah. Terimaksihku untukmu, kakakku. Dorongan semangat darimu ternyata sangat berarti buatku.
Namun, tanggal 7 kemaren, hasil test seleksi tahap 2 penerimaan karyawan PT. Semen Padang diumumkan. Ternyata namamu belum tercantum. Dan artinya dirimu belum ditakdirkan untuk lulus. Dengan demikian, waktumu dijogja tidak akan lama lagi. Engkau harus segera pulang ke daerah asalmu, di pulau Sumatra. Tepatnya kabupaten Oku timur, Sumatra selatan. Hari ini engkau berangkat meninggalkan jogja. Maafkan aku yang tidak sempat mengantar kepergianmu. Bahkan seucap kata selamat jalanpun belum sempat kupersembahkan untukmu. Sms pun belum kukirimkan karena kesibukanku (baca : sok sibuk). Hingga malam ini, aku baru tersadar. Dirimu telah meninggalkan jogja. Saat surat ini kutulis, mungkin dirimu sedang dalam perjalanan. Semoga perjalananmu lancar, kak…. (zawwadakumullahut taqwa…. Dst). Doaku menyertaimu. Semoga ALLAH memberikan tempat yang terbaik untukmu. Aku percaya, engkau orang yang sangat ikhlas menerima keputusan-Nya.selamat berjuang membangun kampong halaman….. Sekali lagi, terimakasih telah mengajariku banyak hal. Maafkan semua kesalahan dan tingkah lakuku yang banyak merepotkanmu.
Surat ini khusus kutulis untukmu, sebagai pengiring langkah kepergianmu. Mudah-mudahan engkau bersedia untuk membacanya.
Terimakasihku untuk mu,…
Teruntuk kak R**** W********, ST (alumni Teknik industry UGM 2002>> hidup teknik!!)
Jogja, 12 juni 2008
adikmu




Subhanallah kisah yg keren. Tnyt srgkali org yg kita kagumi mjd pembangkit energi yg meluap2 utk melewati cobaan.
Bbrp waktu lalu juga aku ngobrol dg seorg adik kelas. Adik kelas yg LUAR BIASA. Di tengah keterbatasannya (mslh ekonomi maupun keluarganya yg sdh tdk lengkap),dia mampu menjelma mjd sesosok akhwat tangguh yg mampu mjd “Ibu” bwt adik2 kelasnya yg lain. Wktu diceritain bgmn srgkali dia kesulitan finansial tu aku jd terharu.Pengen nangis saking sedihnya,tp emg ga bisa.Ga semata2 krn dgr kisah dia yg hebat,tp jg jd introspeksi diri. Knp hidupku yg jauh lbh mudah ini tdk dpt kumaksimalkan…
Naudzubillah min dzalik atas segala kkhilafan ini. Semoga kita semua msh diberi wktu utk BERUBAH,sblm semuanya terlambat. AMIEN…
Hidup adalah pilihan, dan kita berada diruang itu. banyak orang latah menyebut kata “BANGKIT” tapi mereka seringkali tak mengerti makna yang sesungguhnya. Tuhan menciptakan manusia bukan untuk bangkit, bukan untuk lenyap, tapi Tuhan menciptakan manusia untuk berbuat sesuatu yang terbaik. Saudaraku….tidak ada yang sulit dari hidup, ketika kita bersatu dengan yang Maha Hidup, tidak ada yang rumit dalam kehidupan ini, di saat kita mampu menghadirkan Pemilik Kehidupan dalam setiap tetes darah kita. banyak orang menganggap itu rumit, padahal tidaklah sulit. semuanya berpulang pada “kita”, bukankah kita “Khairu Ummah”?….
qolbi.wordpress.com
Hidup adalah pilihan, dan kita berada diruang itu. banyak orang latah menyebut kata “BANGKIT” tapi mereka seringkali tak mengerti makna yang sesungguhnya. Tuhan menciptakan manusia bukan untuk bangkit, bukan untuk lenyap, tapi Tuhan menciptakan manusia untuk berbuat sesuatu yang terbaik. Saudaraku….tidak ada yang sulit dari hidup, ketika kita bersatu dengan yang Maha Hidup, tidak ada yang rumit dalam kehidupan ini, di saat kita mampu menghadirkan Pemilik Kehidupan dalam setiap tetes darah kita. banyak orang menganggap itu rumit, padahal tidaklah sulit. semuanya berpulang pada “kita”, bukankah kita “Khairu Ummah”?….