surat-surat cinta dan perjuangan
Hari ini aku sangat bahagia. Setelah 1 tahun tak berjumpa dengan orang-orang yang sangat kusayangi, (ayah, ibu, dan adikku), hari ini kami dipertemukan kembali. Hidup di perantauan memang ada kenikmatan tersendiri. Bagi sebagian orang, pertemuan dengan keluarga mungkin bukanlah suatu hal yang istimewa. Tapi tidak denganku, yang hamper sebagian besar waktu hidupku terpisah dengan keluarga. Rasa rindu, kangen, terkadang memacu untuk lebih semangat berbuat yang terbaik untuk mereka. Bahkan tidak jarang, rasa itu yang membuatku menjadi lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Mungkin inilah cara ALLAH untuk mendidik hamba-Nya.
Satu hal yang sangat membuatku bahagia, adalah oleh-oleh yang dibawakan untukku. Oleh-oleh yang sangat berharga, tiada ternilai harganya. Oleh-oleh itu memang bukan sesuatu yang mahal. Tapi oleh-oleh itu telah memompa semangatku untuk berjuang menjalani kehidupan, sebagai modal dan bekal untuk menghadapi permasalahan-permasalahan, sekaligus sebagai peringatan dan bahan untuk instropeksi diri. Oleh-oleh ini telah membuatku mengenang masa laluku yang ternyata penuh cinta dan perjuangan. Penuh ketabahan dan pengorbanan. Penuh suka cita, duka lara, dan bahagia. Oleh-oleh ini pula yang membuat rasa cintaku kepada orang-orang terdekatku semakin dalam. Bahkan, sudah 2 hari ini aku meneteskan air mata, acap kali menikmatinya. Oleh-oleh itu tiada lain dan tiada bukan adalah ‘kumpulan surat-surat cinta dan perjuangan (begitu ayahku menyebutnya) ayahku dengan istri dan anak nya yang tercinta (ibu dan aku) selama 4 tahun kami hidup berjauhan. Kumpulan surat yang hamper 2 rim tebalnya dan sebagian merupakan coretan ‘kepolosanku’ dimasa lalu, dan menjadi saksi dan bukti sejarah akan perjuangan hidup yang pernah kualami bersama ayahku, ibuku tercinta.
beberapa waktu yang lalu, aku pun berlinang air mata ketika membaca surat-surat Bung tomo untuk istrinya masa-masa perjuangan memebebaskan RI dan ketika beliau mendekam di penjara. Sebelumnya, aku juga pernah terharu membaca surat-surat prawoto mangkusasmito (ketua masyumi 1959-akhir) untuk putri tercinta nya. Beberapa tahun yang lalu, akupun terhanyut ketika membaca edisi special ‘tarbawi’ yang bertema keajaiban surat-surat cinta, dimana didalamnya berisi surat-surat para pejuang untuk keluarga mereka (hatta, Natsir, Kasman Singodimejo, Syafruddin prawiranegara, HAMKA, Bung Tomo, dan lain-lain).
tapi hari ini, yang kubaca tidak lagi kisah orang lain. namun kisahku, kisah ayah dan ibuku. Meskipun mungkin cobaan yang kami hadapi tidak sebesar yang dialami oleh pejuang-pejuang terdahulu, namun kali ini aku lebih meresapinya karena aku yang mengalaminya. meski saat itu aku masih sangat kecil dan tidak tahu apa-apa. Terkadang aku tak menyangka, dulu aku mampu menggoreskan kata-kata yang meskipun sangat sederhana ternyata mampu menjadi penambah semangat perjuangan ayahku disebrang sana. Seringkali aku baca pada surat-surat beliau untuk ibuku: “ istriku dan anakku, surat dan tulisanmu sangat penting artinya bagi perjuanganku’. Memang efek dari sebuah surat sangat luar biasa. Tak berlebihan kiranya jika banyak buku-buku yang isinya hanya berupa kumpulan surat namun menjadi best seller. Bahkan kumpulan-kumpulan surat ayahku ini ternyata banyak dipinjam oleh teman-teman beliau yang sedang mengalami nasib yang sama, hidup jauh dari keluarga berpisah dengan orang-orang tercinta dalam sebuah suratnya aku menemukan ayahku berkata:
Arti……..(panggilan khusus ayahku untuk istri tercintanya >> ibuku)
Istriku yang tulisanmu merupakan gairah hidupku
Yang stiap aku menulis surat untukmu seolah aku berhadapan denganmu
Yang stiap aku membaca tulisanmu seolah aku bersatu denganmu
Yang sesudah aku habis membaca suratmu aku merasa ada tenaga baru
Yang setiap membaca coretan tanganmu aku merasa……
Perlu kau ketahui…penawar hati bagi orang yang merantau adalah membaca tulisan istri,keluarga dan saudara
Bagiku tak ada yang lebih bernilai smua barang dipasar, toko, supermarket dibandingkan kertas yang ada coretan tanganmu………..(sorong, 11 agustus 1990)
NB:
Berhubung kertas-kertas surat itu tidak bisa diharapkan bertahan dalam waktu yang lama sementara isinya sangat-sangat berharga (terutama untuk keluarga kami), liburan semester kali ini aku mendapat ‘proyek : men-DIGITAL-kan kumpulan surat-surat itu alias mengetik ulang. Tentu saja, tugas ini aku laksanakan dengan sangat senang hati. Semangat!!!!




Wah…bapakmu ternyata romantis juga ya…Kalau surat2nya dah di-digital-kan,aku mau baca dong…Setelah membaca sekilas dari yang kamu tulis di atas,mengingatkan aku pada surat cinta milik tokoh2 yang disebutkan.
reply:
sebagian udah kuketik ulang, mbak… yang puisi2. untitled 1, sama untitled 2….
tunggu edisi selanjutnya…he2….tapi yang ada cerita tentang ke’nakal’anku dimasa kecil, kayaknya ndak perlu ku upload, krna sangat-sangat memalukan… (dulu aku kecil bandel banget, ibuku kewalahan menghadapiku. tp terkadang beliau juga mengakui kehebatanku, pernah hasil gambarku dikirim keayahku, terus dikasih tulisan dipojok atas kertas :
>> aku jadi tersanjung. he2….
Oh, jadi bapak-ibu tu ngirimin biar ada yg ngetikin ya? hehehe, ga dink…
btw, surat2 ini ga rahasia ya? wah, keren juga ya… besok kalau aku udah punya anak-cucu bahaya juga kalau ‘koleksi’ puisiku nyasar…
replay:
yupz..biar dibaca sama anak-anaknya, sekaligus diketikin,. he2…
rahasia?? dulu rahasia, waktu diriku masih ‘belum cukup umur’. berhubung sekarang dirasa sudah cukup dewasa, kata ibu ada baiknya cerita masa lalu itu diketahui juga oleh anak-anaknya. supaya bisa diambil pelajaran. apalagi banyak cerita tentang ‘masa kecilku’. lucu juga…… kalau teman-temanku, dokumentasi masa kecilnya biasa berbentuk foto. sedang diriku, banyak tulisannya (karena setiap kejadian yang menimpaku, selalu dilaporkan ibu lewat surat-suratnya). he2…
NB: udah selesai belum, baca novelnya Buya HAMKA? aku punya buku kumpulan surat2 nya Bung tomo sama istrinya waktu zaman perjuangan dan ketika beliau dipenjara. ada juga kumpulan suratnya Prawoto mangkusasmito.
hemmmm……
klo baca surat2 punya bung tomo, pak prawotom paling2 tau profilenya dari sejarah///
susah menjiwainya…..paling sekilas ja…
nah ini . aq tau bgt nih ma tokoh utamanya…
terutama bapak ma ibu penulis ulangnnya
bakalan seru niihhhh
hehe
Pasti ayahmu sangat dicintai ibumu, karena lelaki yang romantis itu biasanya sangat disukai wanita. he…he..he..
Selain, di ketik ulang, menurutku ditambah surat yang asli di “scan” karena membaca ketikan sama tulisan tangan pasti rasanya berbeda dan lebih terasa di hati. he..he.. sok tahu aja ya..
reply:
yang jelas aku sangat mencintai keduanya. dan mereka berdua juga sangat mencintai diriku… alhamdulillah….
Maaf, blm selesai… yg selesai baru di bawah lindungan ka’bah itu…
Semoga dalam 1-2 minggu ini selesai, habis ujian masih mencekik…
Kumpulan surat ‘cinta’ Bung Tomo? waduh, kebykn baca yg kyk gitu bisa mbuat kepengen cepat XXXXX nih… ada yg lain ndak? yg anak muda banget, komik juga boleh… :p
replay:
waduh….sepertinya selera kita beda. komik?? udah gak zaman lagi. zaman2 SMP dulu udah kenyang banget, sampe ditangkap bagian keamanan. kalo sekarang suka yang bau-bau SILAT JAWA. karyanya SH. mintardja atau Kho ping hoo. arswendo yang senopati pamungkas juga bagus. langit kresna hariadi dgngadjah madanya juga menarik. kalo ada teman zulfi yg juga hobby nya sama, kenalin yah…siapa tau bisa tuker-tukeran bacaan. he2… oh, ya, bukunya pram gimana//? udah nemu yang tetralogi buru?? itu juga seru lho!!!. ayo…cepet2 selesaikan ujian… habis itu bisa maen2…he2… (ALhmd, ujianku dah rampung… tinggal persiapan kerja praktek). saling mendoakan yaw!!!
Membaca tulisan ini, hatiku benar2 tersentuh. Aku jadi teringat kedua orang tuaku yang jauh diseberang sana.. Aku juga gak sadar, ternyata dah hampir 4 tahun aku gak bertemu orang tua. Tetap semangat. Perjalanan kita masih jauh. Masih banyak yang harus kita raih dan kita perjuangkan. Suatu saat kita pasti akan bertemu dan berkumpul dengan orang tua kita lagi… Pasti.
keren lomantis
reply:
terimakasih