UNTUKMU, KADER MUHAMMADIYAH..
Adapun tulisan berikut, juga diambil/ dicuplik dari e-book ‘mengenal dan menjadi muhammadiyah’ yang secara khusus, lebih ditujukan kepada orang-orang yang telah mengenal muhammadiyah dan telah menjadi anggota / kader muhammadiyah. Bagaimana tetap istiqomah dalam bermuhammadiyah dan berjuang mewujudkan cita-cita muhammadiyah.
Mudah-mudahan bermanfaat….
Berikut cuplikannya….
Kalau Saudara anggota Muhammadiyah yang telah
memahami Asas, Maksud, Tujuan, Anggaran Dasar, Anggaran
Rumah Tangga, Penjelasan Muqaddimah Anggaran Dasar,
Kepribadian, Khittah atau Langkah-Langkah Muhammadiyah,
baik yang diputuskan oleh Muktamar-Muktamar yang lalu,
maupun oleh Muktamar yang baru saja terjadi, dan juga oleh
Muktamar yang akan datang, tentulah Saudara sebagai anggota
Muhammadiyah :
1. Tidak akan menonjol-nonjolkan diri untuk menjadi anggota
Pimpinan, baik Pimpinan Cabang, Daerah, Wilayah
maupun Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
2. Tidak akan merasa kecewa, andaikata dalam pemilihan
anggota Pimpinan Saudara tidak terpilih, sehingga Saudara
lalu berkecil hati, kecewa, merajuk dan sebagainya.
3. Saudara akan tetap bekerja dalam Muhammadiyah,
meskipun Saudara tidak sebagai anggota Pimpinan.
4. Kalau Saudara dipilih/terpilih menjadi anggota Pimpinan
tentu Saudara berpengertian, bahwa menjadi Pimpinan
bukanlah berarti suatu kemegahan, suatu pangkat, suatu
kebanggaan, dan tentu Saudara mengerti bahwa menjadi
anggota Pimpinan Muhammadiyah itu berarti tidak akan
mendapat gaji, honorarium, mendapat kotum MPH/haji
biasa, menjadi calon bupati, anggota DPR, dan sebagainya.
Menjadi Pimpinan Muhammadiyah bukanlah berarti dieluelukan,
dijunjung-jungjung, diciumi tangannya, dan
sebagainya. Tidak sama sekali. Dalam Muhammadiyah
tidak ada sama sekali yang demikian.
5. Kalau Saudara terpilih menjadi anggota Pimpinan
Muhammadiyah pada hakekatnya adalah merupakan
kebaktian Saudara, pengabdian Saudara terhadap agama
Islam, terhadap Allah dengan melalui organisasi
Muhammadiyah. Saudara akan banyak berkorban guna
kesuburan, kelangsungan, kelanjutan, kemajuan dan
kepesatan Muhammadiyah dengan kemampuan yang ada
pada Saudara, baik itu berkorban waktu, korban perasaan,
pengetahuan, kekuatan, dan mungkin juga harta Saudara.
6. Menjadi anggota Pimpinan Muhammadiyah, berarti
menonjolkan kemuhammadiyahannya. Walaupun sudah
melalui tiga zaman: zaman Belanda (1912-1942), zaman
Jepang (1942-1945), dan zaman Indonesia Merdeka (1945)
sampai naskah ini ditulis, apalagi di zaman Nasakom,
zaman Manipol, meskipun orang-orang Muhammadiyah
selalu menunjukkan kesetiaannya kepada Negara Republik
Indonesia, namun nasib anggota Muhammadiyah masih
seperti biasa. Yang berdagang kurang mendapat fasilitas,
yang pegawai negeri masih selalu tergencet, terus-menerus
disudutkan, tempatnya dipencil-pencilkan, pangkat tidak
dinaik-naikkan, kedudukanpun selalu dipojok-pojokkan.
Karena itu menjadi anggota Pimpinan Muhammadiyah
harus bermental kuat, ikhlas, jujur, dan sanggup berkorban.
7. Menjadi anggota Pimpinan Muhammadiyah wajib bertekad
menghidup-hidupkan Muhammadiyah. Jangan coba-coba
mencari hidup dalam Muhammadiyah. Biasanya kalau ada
yang bertekad demikian, tidak usah dipelantingkan dia akan
terpelanting sendiri. Siapapun, contohnya sudah banyak
terjadi, yang vested interest, disengaja atau tidak orang itu
akan tersisih dan tersingkir dari Muhammadiyah.
Demikianlah yang biasa terjadi dan banyak sudah terjadi.
Dan Muhammadiyah akan tetap berjalan dan berkembang
terus tanpa orang-orang yang bermental demikian.
Muhammadiyah insya Allah tidak akan mati dan tetap
hidup terus, apabila ditinggalkan oleh mereka yang
bermental demikian. Orang-orang yang ikhlas karena Allah,
insya Allah akan tetap berdatangan, sebab bukan
Muhammadiyah yang memerlukan, tetapi orang-orang yang
ikhlas itulah yang memerlukan Muhammadiyah sebagai
lapangan beramal shaleh, untuk berbakti kepada Allah
subhanahu wata’ala.
8. Karena itu bersembunyilah, dimanapun Saudara
bersembunyi, tetapi kalau Saudara yang ikhlas bekerja,
beramal dalam persyarikatan Muhammadiyah, walaupun
Saudara bukan orang berpangkat, walaupun bukan orang
terpandang, walaupun bukan Sarjana, tetapi karena
Saudara ikhlas beramal dalam Muhammadiyah, tak usah
saudara berkampanye, Saudara akan tetap terpilih menjadi
Pimpinan. Saudara tolak sekalipun, keluarga
Muhammadiyah akan mengincar Saudara untuk menjadi
Pimpinan. Karena Muhammadiyah itu, suburnya,
lancarnya, hanyalah karena bimbingan tangan-tangan yang
ikhlas semata. Cobalah perhatikan! Saudara akan yakin
bahwa memang demikianlah kenyataannya.
9. Kalau Saudara anggota Muhammadiyah telah berkartu
anggota dari Pimpinan Pusat, bernomor baku, itu berarti
bahwa tentunya Saudara telah bersungguh-sungguh mau
berkorban guna keluhuran, ketinggian, tersebarnya kalimah
Allah. Agama Islam yang asli murni, tanpa pamrih dengan
memakai alat organisasi dakwah Muhammadiyah kita ini.
Kalau sudah demikian tekad Saudara, tentu Saudara tidak
keberatan untuk dipilih menjadi anggota Pimpinan. Kalau
Saudara telah menjadi anggota Pimpinan, tentu Saudara
berniat, bagaimana agar Saudara tidak mengecewakan
anggota-anggota yang telah memilihnya. Karena Saudara
pun merasa bertanggung jawab, dan karena Saudara telah
berkesadaran bahwa menjadi Pimpinan wajib menjadi
contoh teladan bagi para anggotanya, maka tentu saja
dengan segala sukarela dan tidak terpaksa oleh siapapun,
hanya didorong oleh rasa tanggung jawab Saudara dengan
sendirinya Saudara pun akan berusaha, bersikap, dan
berlangkah :
·
Memperbaiki iman dan Islam Saudara, secara
sungguh-sungguh (Kitabul Iman – Tarjih)
·
Menambah kebaikan, kerapian, kesungguh-sungguhan
ibadah Saudara (Kitabut-Thoharoh, Kitabush-Sholah,
Kitabush-Shiyam, dan lain-lain – Tarjih)
·
Membiasakan suka berjamaah di manapun dan dengan
siapapun.
·
Menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan dosa yang
demikian menyolok seperti syirik, mencuri, berzina,
membunuh, berjudi, minum khamar, riba.
·
Membiasakan berakhlakul karimah dimana saja dan
kapan saja.
10. Sebaliknya, karena Saudara ada rasa tanggung jawab
sebagai seorang anggota Pimpinan dan tentu dengan
sungguh-sungguh Saudara mengatur rumah tangga
Saudara, anak dan istri Saudara benar-benar sebagai rumah
tangga dan benar-benar sebagai anak-anak dan istri seorang
Pemimpin Islam. Rumah tangga Saudara tampak bentuk
dan sifat-sifat Islamnya, suasananya, gambar-gambar
dinding rumah Saudara, bicara-bicara Saudara, dan anak
istri Saudara, sikap Saudara terhadap pelayan atau
pembantu rumah tangga Saudara, sampai-sampai kamarkamar
rumah Saudara tampak tanda-tanda keislamannya.
Umpamanya ada tempat shalat atau sekurang-kurangya
tikar shalat, anak-anak masuk rumah dengan salam, setelah
waktu shalat sama pergi ke masjid, atau siap-siap untuk
jamaah di rumah, dan demikian seterusnya.
Dan karena telah Saudara biasakan, maka Saudara pun
memerlukan shalat shalat nawafil, shalat dhuha, juga shalat
lail/witir, baik untuk kepentingan pribadi Saudara sebagai
hamba Allah kepada Allah, juga sebagai manifestasi
keprihatinan Saudara guna kemajuan, keluasan, kelurusan
Muhammadiyah, juga untuk memohonkan kepada Allah
pertolongannya guna Muhammadiyah.(sekian)
NB: untuk mendownload e-book nya, silahkan klik disini




Kalau untuk zaman sekarang aku kurang setuju dengan jangan mencari hidup di muhammadiyah. Kita lihat sekarang berapa amal usaha muhammadiyah. Dari sekian banyak itu mana yang dikelola dengan profesional yang menggunakan SDM kader. Kebanyakan sekarang amal usaha muhammadiyah merekrut karyawan bukan dari kader sendiri, bisa-bisa amal usaha kita nani diambil oleh organisasi lain.
Seharusnya muhammadiyah itu bisa memberikan solusi khususnya bagi kader untuk masalah ekonomi (pekerjaan). So, sekarang moto muhammadiyah menjadi hidup-hidupilah muhmmadiyah dan mencari hidup di muhammadiyah tidak ada salahnya kalau kita tetap profesional. OK.
mas supri, pesan hidup hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah itu merupakan pesan KH A. Dahlan kepada kita para penerusnya. alangkah baiknya kalau amal usaha muhammadiyah dikelola oleh Anggota Muhammadiyah yang tahu apa tujuan didirikan amal usaha itu dan berusaha mewujudkan tujuan itu, bukan sekedar profesional. dah banyak amal usaha muhammadiyah yang karyawannya tidak mengerti tujuan didirikan amal usaha itu, yang dipikirkan oleh mereka bagaimana amal usaha itu menghasilkan profit yang tinggi. akhirnya biaya rumah sakit atau poliklinik Muhammadiyah jadi mahal, biaya sekolah atau kuliah jadi mahal, dll. tahukah mas, dulu rumah sakit Muhammadiyah zaman pak KH A. Dahlan sebagai rumah sakit rakyat kecil, berobat disana gratis. sekolah muhammadiyah menjadi sekolah alternatif bagi rakyat miskin karena biayanya murah bahkan gratis. bukankah salah satu tujuan didirikan muhammadiyah untuk membantu rakyat miskin, yatim piatu, rakyat miskin kota, dan para gelandangan?
profesional itu wajib, mencari profit untuk membiayai dan mengembangkan amal usaha itu harus, tetapi jangan sampai mengesampingkan tujuan muhammadiyah itu. yang terjadi sekarang adalah banyak orang yang menjadi karyawan amal usaha tapi ga ngerti tujuan muhammadiyah, akhirnya amal usaha itu dibuat layaknya perusahaan pada umumnya, hanya mengejar profit. ga cukup hanya profesional tapi harus faham tujuan Muhammadiyah dan berusaha mewujudkan tujuan itu melalui amal usaha muhammadiyah dimana dia bekerja. kalau merekrut karyawan dari luar kader Muhammadiyah karena kekurangan karyawan, bagaimana karyawan baru itu harus ditraining dan di kader supaya faham tujuan Muhammadiyah dan mau berjuang mewujudkan tujuan Muhammadiyah melalui amal usaha dimana dia bekerja.
Ga hanya kerja di Muhammadiyah, tapi juga bertanggungjwb thd dakwah Muhammadiyah. Kalau ga sepakat, mending pindah aja….
Ibarat kita bertamu maka, sangat logis kalau tuan rumah meminta tamu ‘menaati’ aturan2 milik tuan rumah… Nah, ada baiknya Muhammadiyah bertindak spt itu, agar mempermudah jg jalan dakwah Muhammadiyah
BAGI SIAPA SAJA YANG BERKEINGINAN MENJADIKAN AMAL USAHA MUHAMMADIYAH SEBAGAI BATU LONCATAN UNTUK MENDAPATKAN SESUATU YANG LAIN DAN HANYA MENCARI KEHIDUPAN DI AMAL USAHA MUHAMMADIYAH MENDING PANJENENGAN KELUAR SAJA KARENA KEINGINAN ANDA SUDAH TIDAK SESUAI DENGAN APA YANG DIINGINKAN MUHAMMADIYAH