*hAti yAnG tEnAnG*

UNTUKMU, KADER MUHAMMADIYAH..

Posted in islam by qolbiyati muthmainah on Mei 17, 2008

Adapun tulisan berikut, juga diambil/ dicuplik dari e-book ‘mengenal dan menjadi muhammadiyah’ yang secara khusus, lebih ditujukan kepada orang-orang yang telah mengenal muhammadiyah dan telah menjadi anggota / kader muhammadiyah. Bagaimana tetap istiqomah dalam bermuhammadiyah dan berjuang mewujudkan cita-cita muhammadiyah.

Mudah-mudahan bermanfaat….

Berikut cuplikannya….

Kalau Saudara anggota Muhammadiyah yang telah

memahami Asas, Maksud, Tujuan, Anggaran Dasar, Anggaran

Rumah Tangga, Penjelasan Muqaddimah Anggaran Dasar,

Kepribadian, Khittah atau Langkah-Langkah Muhammadiyah,

baik yang diputuskan oleh Muktamar-Muktamar yang lalu,

maupun oleh Muktamar yang baru saja terjadi, dan juga oleh

Muktamar yang akan datang, tentulah Saudara sebagai anggota

Muhammadiyah :

1. Tidak akan menonjol-nonjolkan diri untuk menjadi anggota

Pimpinan, baik Pimpinan Cabang, Daerah, Wilayah

maupun Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

2. Tidak akan merasa kecewa, andaikata dalam pemilihan

anggota Pimpinan Saudara tidak terpilih, sehingga Saudara

lalu berkecil hati, kecewa, merajuk dan sebagainya.

3. Saudara akan tetap bekerja dalam Muhammadiyah,

meskipun Saudara tidak sebagai anggota Pimpinan.

4. Kalau Saudara dipilih/terpilih menjadi anggota Pimpinan

tentu Saudara berpengertian, bahwa menjadi Pimpinan

bukanlah berarti suatu kemegahan, suatu pangkat, suatu

kebanggaan, dan tentu Saudara mengerti bahwa menjadi

anggota Pimpinan Muhammadiyah itu berarti tidak akan

mendapat gaji, honorarium, mendapat kotum MPH/haji

biasa, menjadi calon bupati, anggota DPR, dan sebagainya.

Menjadi Pimpinan Muhammadiyah bukanlah berarti dieluelukan,

dijunjung-jungjung, diciumi tangannya, dan

sebagainya. Tidak sama sekali. Dalam Muhammadiyah

tidak ada sama sekali yang demikian.

5. Kalau Saudara terpilih menjadi anggota Pimpinan

Muhammadiyah pada hakekatnya adalah merupakan

kebaktian Saudara, pengabdian Saudara terhadap agama

Islam, terhadap Allah dengan melalui organisasi

Muhammadiyah. Saudara akan banyak berkorban guna

kesuburan, kelangsungan, kelanjutan, kemajuan dan

kepesatan Muhammadiyah dengan kemampuan yang ada

pada Saudara, baik itu berkorban waktu, korban perasaan,

pengetahuan, kekuatan, dan mungkin juga harta Saudara.

6. Menjadi anggota Pimpinan Muhammadiyah, berarti

menonjolkan kemuhammadiyahannya. Walaupun sudah

melalui tiga zaman: zaman Belanda (1912-1942), zaman

Jepang (1942-1945), dan zaman Indonesia Merdeka (1945)

sampai naskah ini ditulis, apalagi di zaman Nasakom,

zaman Manipol, meskipun orang-orang Muhammadiyah

selalu menunjukkan kesetiaannya kepada Negara Republik

Indonesia, namun nasib anggota Muhammadiyah masih

seperti biasa. Yang berdagang kurang mendapat fasilitas,

yang pegawai negeri masih selalu tergencet, terus-menerus

disudutkan, tempatnya dipencil-pencilkan, pangkat tidak

dinaik-naikkan, kedudukanpun selalu dipojok-pojokkan.

Karena itu menjadi anggota Pimpinan Muhammadiyah

harus bermental kuat, ikhlas, jujur, dan sanggup berkorban.

7. Menjadi anggota Pimpinan Muhammadiyah wajib bertekad

menghidup-hidupkan Muhammadiyah. Jangan coba-coba

mencari hidup dalam Muhammadiyah. Biasanya kalau ada

yang bertekad demikian, tidak usah dipelantingkan dia akan

terpelanting sendiri. Siapapun, contohnya sudah banyak

terjadi, yang vested interest, disengaja atau tidak orang itu

akan tersisih dan tersingkir dari Muhammadiyah.

Demikianlah yang biasa terjadi dan banyak sudah terjadi.

Dan Muhammadiyah akan tetap berjalan dan berkembang

terus tanpa orang-orang yang bermental demikian.

Muhammadiyah insya Allah tidak akan mati dan tetap

hidup terus, apabila ditinggalkan oleh mereka yang

bermental demikian. Orang-orang yang ikhlas karena Allah,

insya Allah akan tetap berdatangan, sebab bukan

Muhammadiyah yang memerlukan, tetapi orang-orang yang

ikhlas itulah yang memerlukan Muhammadiyah sebagai

lapangan beramal shaleh, untuk berbakti kepada Allah

subhanahu wata’ala.

8. Karena itu bersembunyilah, dimanapun Saudara

bersembunyi, tetapi kalau Saudara yang ikhlas bekerja,

beramal dalam persyarikatan Muhammadiyah, walaupun

Saudara bukan orang berpangkat, walaupun bukan orang

terpandang, walaupun bukan Sarjana, tetapi karena

Saudara ikhlas beramal dalam Muhammadiyah, tak usah

saudara berkampanye, Saudara akan tetap terpilih menjadi

Pimpinan. Saudara tolak sekalipun, keluarga

Muhammadiyah akan mengincar Saudara untuk menjadi

Pimpinan. Karena Muhammadiyah itu, suburnya,

lancarnya, hanyalah karena bimbingan tangan-tangan yang

ikhlas semata. Cobalah perhatikan! Saudara akan yakin

bahwa memang demikianlah kenyataannya.

9. Kalau Saudara anggota Muhammadiyah telah berkartu

anggota dari Pimpinan Pusat, bernomor baku, itu berarti

bahwa tentunya Saudara telah bersungguh-sungguh mau

berkorban guna keluhuran, ketinggian, tersebarnya kalimah

Allah. Agama Islam yang asli murni, tanpa pamrih dengan

memakai alat organisasi dakwah Muhammadiyah kita ini.

Kalau sudah demikian tekad Saudara, tentu Saudara tidak

keberatan untuk dipilih menjadi anggota Pimpinan. Kalau

Saudara telah menjadi anggota Pimpinan, tentu Saudara

berniat, bagaimana agar Saudara tidak mengecewakan

anggota-anggota yang telah memilihnya. Karena Saudara

pun merasa bertanggung jawab, dan karena Saudara telah

berkesadaran bahwa menjadi Pimpinan wajib menjadi

contoh teladan bagi para anggotanya, maka tentu saja

dengan segala sukarela dan tidak terpaksa oleh siapapun,

hanya didorong oleh rasa tanggung jawab Saudara dengan

sendirinya Saudara pun akan berusaha, bersikap, dan

berlangkah :

·

Memperbaiki iman dan Islam Saudara, secara
sungguh-sungguh (Kitabul Iman – Tarjih)

·

Menambah kebaikan, kerapian, kesungguh-sungguhan
ibadah Saudara (Kitabut-Thoharoh, Kitabush-Sholah,
Kitabush-Shiyam, dan lain-lain – Tarjih)

·

Membiasakan suka berjamaah di manapun dan dengan
siapapun.

·

Menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan dosa yang
demikian menyolok seperti syirik, mencuri, berzina,
membunuh, berjudi, minum khamar, riba.

·

Membiasakan berakhlakul karimah dimana saja dan
kapan saja.

10. Sebaliknya, karena Saudara ada rasa tanggung jawab

sebagai seorang anggota Pimpinan dan tentu dengan

sungguh-sungguh Saudara mengatur rumah tangga

Saudara, anak dan istri Saudara benar-benar sebagai rumah

tangga dan benar-benar sebagai anak-anak dan istri seorang

Pemimpin Islam. Rumah tangga Saudara tampak bentuk

dan sifat-sifat Islamnya, suasananya, gambar-gambar

dinding rumah Saudara, bicara-bicara Saudara, dan anak

istri Saudara, sikap Saudara terhadap pelayan atau

pembantu rumah tangga Saudara, sampai-sampai kamarkamar

rumah Saudara tampak tanda-tanda keislamannya.

Umpamanya ada tempat shalat atau sekurang-kurangya

tikar shalat, anak-anak masuk rumah dengan salam, setelah

waktu shalat sama pergi ke masjid, atau siap-siap untuk

jamaah di rumah, dan demikian seterusnya.

Dan karena telah Saudara biasakan, maka Saudara pun

memerlukan shalat shalat nawafil, shalat dhuha, juga shalat

lail/witir, baik untuk kepentingan pribadi Saudara sebagai

hamba Allah kepada Allah, juga sebagai manifestasi

keprihatinan Saudara guna kemajuan, keluasan, kelurusan

Muhammadiyah, juga untuk memohonkan kepada Allah

pertolongannya guna Muhammadiyah.(sekian)

NB: untuk mendownload e-book nya, silahkan klik disini

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. supri X said, on Mei 19, 2008 at 12:50 am

    Kalau untuk zaman sekarang aku kurang setuju dengan jangan mencari hidup di muhammadiyah. Kita lihat sekarang berapa amal usaha muhammadiyah. Dari sekian banyak itu mana yang dikelola dengan profesional yang menggunakan SDM kader. Kebanyakan sekarang amal usaha muhammadiyah merekrut karyawan bukan dari kader sendiri, bisa-bisa amal usaha kita nani diambil oleh organisasi lain.
    Seharusnya muhammadiyah itu bisa memberikan solusi khususnya bagi kader untuk masalah ekonomi (pekerjaan). So, sekarang moto muhammadiyah menjadi hidup-hidupilah muhmmadiyah dan mencari hidup di muhammadiyah tidak ada salahnya kalau kita tetap profesional. OK.

  2. muhammadsurya said, on Mei 19, 2008 at 5:41 pm

    mas supri, pesan hidup hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah itu merupakan pesan KH A. Dahlan kepada kita para penerusnya. alangkah baiknya kalau amal usaha muhammadiyah dikelola oleh Anggota Muhammadiyah yang tahu apa tujuan didirikan amal usaha itu dan berusaha mewujudkan tujuan itu, bukan sekedar profesional. dah banyak amal usaha muhammadiyah yang karyawannya tidak mengerti tujuan didirikan amal usaha itu, yang dipikirkan oleh mereka bagaimana amal usaha itu menghasilkan profit yang tinggi. akhirnya biaya rumah sakit atau poliklinik Muhammadiyah jadi mahal, biaya sekolah atau kuliah jadi mahal, dll. tahukah mas, dulu rumah sakit Muhammadiyah zaman pak KH A. Dahlan sebagai rumah sakit rakyat kecil, berobat disana gratis. sekolah muhammadiyah menjadi sekolah alternatif bagi rakyat miskin karena biayanya murah bahkan gratis. bukankah salah satu tujuan didirikan muhammadiyah untuk membantu rakyat miskin, yatim piatu, rakyat miskin kota, dan para gelandangan?
    profesional itu wajib, mencari profit untuk membiayai dan mengembangkan amal usaha itu harus, tetapi jangan sampai mengesampingkan tujuan muhammadiyah itu. yang terjadi sekarang adalah banyak orang yang menjadi karyawan amal usaha tapi ga ngerti tujuan muhammadiyah, akhirnya amal usaha itu dibuat layaknya perusahaan pada umumnya, hanya mengejar profit. ga cukup hanya profesional tapi harus faham tujuan Muhammadiyah dan berusaha mewujudkan tujuan itu melalui amal usaha muhammadiyah dimana dia bekerja. kalau merekrut karyawan dari luar kader Muhammadiyah karena kekurangan karyawan, bagaimana karyawan baru itu harus ditraining dan di kader supaya faham tujuan Muhammadiyah dan mau berjuang mewujudkan tujuan Muhammadiyah melalui amal usaha dimana dia bekerja.

  3. Zulfi said, on Mei 21, 2008 at 8:58 pm

    Ga hanya kerja di Muhammadiyah, tapi juga bertanggungjwb thd dakwah Muhammadiyah. Kalau ga sepakat, mending pindah aja….

    Ibarat kita bertamu maka, sangat logis kalau tuan rumah meminta tamu ‘menaati’ aturan2 milik tuan rumah… Nah, ada baiknya Muhammadiyah bertindak spt itu, agar mempermudah jg jalan dakwah Muhammadiyah

  4. candra said, on Desember 22, 2008 at 8:43 am

    BAGI SIAPA SAJA YANG BERKEINGINAN MENJADIKAN AMAL USAHA MUHAMMADIYAH SEBAGAI BATU LONCATAN UNTUK MENDAPATKAN SESUATU YANG LAIN DAN HANYA MENCARI KEHIDUPAN DI AMAL USAHA MUHAMMADIYAH MENDING PANJENENGAN KELUAR SAJA KARENA KEINGINAN ANDA SUDAH TIDAK SESUAI DENGAN APA YANG DIINGINKAN MUHAMMADIYAH


Tinggalkan Balasan