homesick
Sudah 4 hari aku terkapar tak berdaya diatas kasur. Sesekali bangkit untuk sholat dan ke kamar kecil. Bahkan makanpun terkadang kulakukan diatas tempat tidur. mungkin sakitku sebenarnya tidak terlalu parah, namun kondisi fisikku yang memang jarang olahraga dan sedikit agak lemah membuat sakitku semakin agak parah.selain kerja keras bermalam-malam dan lembur tugas yang menguras tenaga menyebabkan kondisiku semakin lemah.
Tapi aku patut bersyukur, setidaknya dengan sakit ini aku bisa mendapat jatah untuk beristirahat. Menenangkan pikiran, sekaligus merenung atas apa yang telah aku lakukan selama ini. Dikala seluruh anggota rumah pergi beraktivitas, dan tinggal aku seorang diri teronggok lemah tak berdaya disusut kamar, yang bisa kulakukan hanya membaca buku, dan sesekali berusaha mencari teman ngobrol dengan connect keinternet pake telkomnet instant (fasilitas yang sebelumnya tidak pernah aku pake karena sangat mahal, tapi akhirnya dengan sangat terpaksa kugunakan). Saat sendiri itulah, terkadang bayangan orang-orang rumah muncul, wajah-wajah orang yang kusayangi dan menyayangiku. Ayah…..ibu…. dan adikku…..
Seorang teman berkomentar : “wah, akhwat sekelas qolbi bisa homesick juga ya?”. Homesick??/waktu dipesantren, teman-temanku menjulukiku sebagai anak yang kebal dengan virus ‘homesick’. Bayangkan, bertahun-tahun aku tidak pulang ke kampong halaman, namun aku masih bisa bertahan. terkadang disaat lebaranpun, orang tuaku tidak selalu bisa dipastikan pulang ke Jawa. Kalau liburan naik kelas beliau pulang, maka sudah alamat lebaran harus tanpa ortu. Tapi hal itu tidak terlalu bermasalah. Aku sudah cukup terbiasa dengan hidup jauh dari orang tua.
Tapi…disaat-saat sedang sendiri, seperti kemaren, siapa lagy yang ada dalam pikiranku selain orang-orang rumah?? Saat itu yang bisa kulakukan hanya membuka file-file poto yang ada di laptop, ku utak-atik dengan photoshop, sesekali kubuka email-email yang pernah kukirim untuk ayah, ibu dan adikku.kalo sudah capek, kubaringkan badan dengan mata terpejam, berharap bisa bermimpi bertemu dengan mereka. Dengan begitu, aku merasa rasa sakitku bisa sedikit berkurang. Meski telepon tiap hari selalu bordering dan sms dari mereka tak pernah absen, aku masih merasa ada yang kurang. Yah, beginilah nasib menjadi anak rantau….
Tapi…aku tidak boleh menyerah…. Virus homesick memang terkadang bisa menyerang dengan sangat ganas, membuatku menjadi malas dan tidak produktif. Apalagi jika ia sedang bersekongkol dengan penyakit lain seperti keadaanku kemarin. Alhamdulillah, akhirnya virus itupun bisa sedikit berkurang, meski bekas-bekasnya masih sedikit tersisa. Apalagi setelah kusadari, disini aku juga punya banyak saudara dan teman yang masih menyayangiku, mau mendengarkan keluh kesahku. Kangen dengan kampong halaman, memang manusiawi. Tapi bagaimana rasa kangen itu justru bisa memotivasi untuk lebih semangat memperjuangkan cita-cita yang nantinya bisa dijadikan oleh-oleh ketika kita kembali, bukan justru menghalangi apalagi dijadikan alas an untuk tidak bisa berprestasi.
Ayah….ibu….adik…..suatu saat aku akan pulang….(tunggu ya J)




Akhwat sekelas qolbi bisa sakit?
Kyknya pernah dengar…
Iya, Homesick berbahaya kalau dibiarkan, artinya segeralah cepat pulang….
Ga ding, mungkin ada ‘pelarian’ yang bisa dilakukan…
Buatku internet dan jalan2 juga pelarian yang amat menyenangkan…
Assalamu’alaikum Qolbi,
lama aku ga mampir
Hmm..bi,,,blogku baru..(hehe,,ga penting ya ^^)

wah,,hmm..pengen komentar
aku emang jujur bukan anak perantauan,dan entah mengapa sering dulu diolok2 yang ga enak pas aku kecil, dibilang anak manja, dibilang anak mama, dibilang yang seterus2nya..
Padahal, wah…dunia di alamku itu ga seperti yang mereka omongin
lama2 tambah gede, ya suara2 yang begitu aku diemin aja, bisa aja kan aku keliatannya anak rumah,yang dulunya tiap hari dianter jemput dll, ternyata aku engga kaya gitu
Aku jarang ngrasa homesick bi, karena aku di rumah,,tapi..
aku sering ngrasa “homesick” atau bahasa gaulnya “kangen” sama yang di Atas, yang Maha Mendengar, Maha Melihat..Maha Mengetahui apa yang aku sama sekali engga ketahui,,
Dan, aku hanya bisa meraba,,sebesar itukah homesick Qolbi?
“Hidup ini adalah permainan yang dimainkan dalam sebuah realita”
Selalu semangat ya bi!! ^^
stelah baca punya mb Qolbi,
aq jadi bertanya2……………
aku termasuk yang dikangenin gak ya……………?