merespon dengan cerdas
Tanggapan dari tulisan cahyo (schism, mengapa harus dirilis dan menangkal fitnah-fitnah semacam ‘fitna’)
Film fitna, karikatur Nabi Muhammad saw, dan berbagai macam bentuk penghinaan terhadap umat muslim lainnya mungkin sudah jadi berita basi untuk sekarang. tapi entah kenapa, saya tiba-tiba berniat untuk membahasnya kembali setelah baru saja saya membaca artikel seorang teman, yang sudah dipublish beberapa bulan yang lalu tapi baru sempat saya baca dengan detail tadi pagi.
Saya tidak tahu, apakah komentar saya ini sudah sangat terlambat, out of date, atau ketinggalan jaman. Tapi tidak menutup kemungkinan, kejadian-kejadian seperti ini bisa saja terulang kembali dimasa-masa yang akan datang. Sehingga mudah-mudahan pengalaman dimasa lalu bisa dijadikan pijakan untuk bertindak dimasa yang akan datang.
Pada dasarnya, penghinaan terhadap nabi Muhammad sudah ada sejak zaman rasulullah masih hidup. Mulai di’gosip’kan sebagai tukang sihir, tukang ramal, dilempari kotoran, sampai dikatakan gila. Bahkan gossip tersebut tidak saja disebarkan didaerah makkah saja, tapi juga disebarkan ke seluruh tempat yang bisa dijangkau oleh orang-orang yang tidak menyukai akan berita kenabian ini.
Tapi yang menarik disini adalah respon yang terjadi. Dengan adanya berita gossip tadi, ternyata justru menjadi sarana untuk iklan sekaligus promosi gratis yang menyebabkan beberapa orang dari daerah yang jauh dari Makkah berdatangan untuk membuktikan berita yang mereka dapatkan. Ketika mereka tiba di Makkah dan bertemu dengan seorang “Muhammad” yang digosipkan gila, mereka pun menjadi terheran-heran. Karena berita yang didapat sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan. Justru setelah bertemu “Muhammad”, mereka menjadi tertarik dengan apa yang dibawa beliau dan akhirnya masuk islam, seperti contoh Abu dzar alghifari.
Lalu bagaimana dengan konteks kondisi saat ini? Ketika muncul bentuk-bentuk penghinaan terhadap islam, lantas umat islam menunjukkan kemarahannya dengan ber-cuap-cuap, atau bahkan membuat ‘penghinaan’ balasan seperti film ‘schims’, saya rasa hal tersebut kurang ‘cerdas’. Bahkan, jangan-jangan musuh islam pun sudah me-ngecap bahwa kemarahan umat islam pastilah tidak berlangsung lama. Hanya euphoria sesaat, sehingga tidak perlu takut. “ biarkan umat islam marah…paling 2 pekan setelah ini mereka bakal diam, koq. Toh beberapa kejadian-kejadian sebelumnya kan begitu. 2 pekan cuap-cuap sambil marah-marah, setelah itu kembali seperti semula”.
Mungkin respon beberapa saudara kita di universitas madinah saat menanggapi film fitna kemaren perlu dicontoh. Dengan munculnya film tersebut, konon dikabarkan buku-buku keislaman di belanda terjual laris manis, bahkan sampai stok ludes. Hal ini disebabkan oleh rasa penasaran masyarakat, tentang bagaimanakah islam yang sebenarnya. Apakah seperti yang diceritakan dalam film ataukah berbeda. Melihat gelagat tersebut, segera saja mereka mencetak buku-buku keislaman dalam berbagai versi bahasa untuk dikirimkan ke Eropa. Selain buku-buku, mereka juga banyak mem-publish website baru yang menceritakan ‘islam’ yang sesungguhnya dalam berbagai versi bahasa pula. Ternyata… sikap ini membuahkan hasil. Kunjungan ke website semakin banyak, buku-buku yang dicetak pun laris. Dan yang lebih membahagiakan, banyak orang-orang eropa yang akhirnya memutuskan untuk memeluk Islam setelah mengetahui bahwa islam yang sesungguhnya sama sekali tidak seperti yang ada dalam film.
Berita ini adalah berita nyata yang disampaikan oleh ust. Ridwan hamidi pada saat kajian ahad pagi di masjid kampus, beberapa pekan setelah ramai-ramainya dibicarakan film fitna.
Yah…merespon dengan cerdas itu sangat penting. Sehingga, kalau meminjam istilah teman saya, tembakan kita bisa tepat sasaran. Bahkan, sekali tembak, dua tiga pulau bisa terlampaui (salah ya, pribahasanya?)




sip, menanggapi dengan cerdas adalah utama. insyaAlloh.
tulisan di atas saya kira cukup menarik karena memberikan pemahaman baru bahwa bentuk hinaan tidak perlu kita sikapi dengan kekerasan pula. saya juga sangat bangga pada saudai qolbi yang telah antusias dalam menyempatkan waktu-waktunya untuk selalu menulis. salam dari saya untuk temanku qolbi.