Kemarin baru saja saya membaca sebuah artikel tentang ‘kesetaraan gender’ di blog salah seorang teman. Disana dia menceritakan kisahnya yang bimbang ketika akan memberikan kursi kepada mbak-mbak atau ibu-ibu di bis , apakah tindakan tersebut dapat dinilai sebagai budi baik, ataukah justru melecehkan, karena menganggap perempuan lemah, tidak kuat berdiri, sehingga harus diberi kursi oleh seorang lelaki.
Sebagai seorang perempuan, menurut saya tidak selamanya ketika seorang lelaki memberikan bantuan atau perempuan meminta bantuan didasarkan karena ‘kelemahan’ dirinya. Bisa jadi pada dasarnya dia mampu melakukan, tetapi karena suatu hal yang menghalangi, akhirnya membuat seorang perempuan ‘dibantu’ oleh laki-laki. Jadi pemberian bantuan itu bukan karena ‘lemah’nya perempuan. Hal ini pun tidak hanya terjadi pada perempuan saja, tapi bisa juga terjadi pada laki-laki. Sebuah kejadian yang pernah saya alami, bisa dijadikan salah satu contoh.
Ceritanya, kurang lebih 2 tahun yang silam ketika masih awal-awal memasuki dunia kampus, kebutuhan untuk memiliki perangkat digital (komputer) semakin mendesak. Kebetulan saat itu sedang ada pameran komputer di JEC. Karena memang sudah mengajukan proposal ke orang tua dan sudah di ACC, akhirnya sayapun memutuskan untuk hunting PC di pameran. Sengaja saya memilih waktu hari jum’at jam 11, dengan asumsi pameran tidak ramai dengan makhluk laki-laki, karena mereka harus persiapan sholat jum’at. Alhamdulillah, prediksi saya benar. Meskipun ramai, tapi setidaknya lebih sedikit sepi dan tidak didominasi laki-laki, sehingga kemungkinan berdesak-desakan pun dapat dihindari. Alhamdulillah…
Setelah berjalan kesana kemari, akhirnya saya pun menemukan stand yang cocok. Disitu saya memesan sebuah PC rakitan seperti yang telah saya rencanakan. Sayangnya, PC itu tidak bisa langsung saya bawa pulang, karena proses perakitannya dilakukan di toko asalnya. Saya hanya mendapatkan nota, dan untuk mengambil PC nya saya disuruh untuk langsung ke tokonya.
Berhubung kuliah ditahun pertama dulu sangat padat, waktu senggang saya hanya sore hari. Selepas sholat ashar di mushola teknik, segera saja saya berangkat ke toko komputer di jakal km7 (ASC computer). ketika itu saya belum bisa mengendarai sepeda motor, sehingga saya harus naik angkot dari lampu merah MM UGM. Alhamdulillah, angkotnya sepi, sehingga tidak ada adegan berdesak-desakan (harap dimaklumi, saya paling anti berdesak-desakan apalagi kalau dengan laki-laki). Karena tipikal saya yang tidak suka meminta bantuan pada orang lain, saya pun berangkat seorang diri tanpa teman seorangpun.
Sesampainya di ASC computer, saya kaget dan sama sekali tidak menduga…. Ternyata antrian untuk mengambil barang hasil pembelian dipameran sangat panjang. dan yang lebih membuat saya shock, antriannya tidak rapi tetapi harus berdesak-desakan. Dan sudah bisa dipastikan, 90 % yang antri adalah laki-laki. Kalaupun ada mbak-mbak, biasanya mereka ditemani dengan laki-laki (entah ayahnya atau kakaknya, atau temannya). Dan mbak-mbak itu hanya duduk manis menunggu dikursi, sementara yang sibuk antri adalah orang yang mengantarkannya. Sedangkan saya??/ seorang diri dan sebatang kara, tiada teman dan tak seorangpun yang saya kenal. Terpaksa saya duduk dikursi tunggu, sembari menanti antrian sepi. Ternyata perkiraan saya salah, semakin sore justru antrian semakin panjang. Maklum, hari itu kalau tidak salah adalah hari terakhir pameran. Saya terus berfikir, apa yang bisa saya lakukan.
Saya perhatikan orang-orang yang antri. Semuanya laki-laki. Tapi saya melihat ada beberapa orang yang baru saja datang dan malas mengantri, shingga menitipkan notanya kepada orang yang dikenalnya yang sudah berada diambang loket untuk diambilkan pesanannya. Lalu sayapun merenung. Tampak beberapa orang yang dari penampilannya kelihatan orang yang ‘alim’. Sebut saja ikhwan. Dengan baju koko, celana cingkrang, dst. Saya sedikit berharap kepada mereka karena saya pikir mereka memahami alasan saya tidak mau berdesak-desakan. kalaulah mereka mengerti keresahan saya, dan menawarkan bantuannya untuk meng-antri-kan nota saya sekaligus mengambilkan PC pesanan saya….tapi ternyata tak seorangpun yang mengerti keresahan saya….hiks…hiks… Padahal saat itu saya sudah bangkit dari kursi dan mulai memberanikan diri mendekati kerumunan antrian. Sekedar memancing, kalau-kalau mereka tergerak hatinya untuk menolong saya. Ternyata perkiraan saya salah. Tidak ada yang peduli dengan saya. …
Melihat waktu yang semakin sore, dan takut kehabisan angkot, akhirnya sayapun memberanikan diri menceburkan diri dengan berdesak-desakan. Toh ketika itu saya membawa ransel yang agak besar (karena ada botol minum 1,5 liter dan beberapa buku tebal). Selain itu saya juga membawa papan gambar ukuran A3 yang bisa saya jadikan ‘tameng’ dalam acara desak-desakan tersebut. Karena nekat, saya tidak peduli. Mungkin banyak orang menggerutu karena terkena senggolan ransel ataupun papan gambar saya. Tapi saya nggak peduli, karena sudah dikejar waktu.
Ketika saya sudah melakukan ‘aksi nekat’ saya, ternyata beberapa orang ‘ikhwan’ tersebut tetap tidak menawarkan bantuannya dan membiarkan saya berdesak-desakan. Dan saya memang tipikal orang yang sangat sulit untuk meminta bantuan (meskipun kalau ada yang menawari tidak akan saya tolak). tapi, yang membuat saya senang, beberapa orang ikhwan tersebut yang akhirnya sedikit menjauh, selain karena takut terkena papan gambar/ransel saya, mungkin juga takut bersentuhan dengan yang bukan mahromnya. Keputusan mereka itu membuat jalan saya menuju mulut loket semakin lapang. Dengan usaha sekuat tenaga, sabet sana sabet sini, akhirnya saya sampai dimulut loket dan berhasil mengambil PC (tanpa monitor) pesanan saya. Alhamdulillah…..
PC tersebut saya gotong-gotong sendiri, menuju jalan raya. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 17.30. saya sudah khawatir kehabisan angkot. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya datanglah angkot (yg mungkin angkot terakhir). Segera saya naiki, dan singkat cerita, sampailah saya di kos dengan selamat….
Entah kebetulan atau tidak, sesampainya dikos saya langsung sholat maghrib, dan kemudian tilawah. Pada saat tilawah, tepat sekali ayat yang saya baca adalah QS. AL-Qoshosh : 23-24 yang menceritakan kisah Nabi musa as menolong 2 orang perempuan yang ingin mengambil air namun terhalang oleh kerumunan orang yang juga berdesak-desakan ingin mengambil air.
Aku merasa kejadian yang aku alami mirip dengan kisah itu. Hanya saja, pada kejadian yang kualami, tidak ada seorangpun yang berperan layaknya nabi Musa dengan Menawarkan bantuan kepadaku. Andaikan para makhluq laki-laki tadi mau meneladani kisah nabi Musa as…Asalkan kisahnya jangan diteruskan seperti kisah nabi musa.as yang akhirnya menikah dengan salah seorang gadis yang telah ia bantu. Cukup kisahnya berhenti sampai pada pemberian bantuan saja. He2..
Sayapun mencoba berfikir terbalik. Andaikan pada sebuah antrian didominasi oleh perempuan, kemudian ada seorang’laki-laki/ikhwan’ yang juga ingin mengantri. Lantas ia menunggu antrian agak sepi untuk menghindari desak-desakan dengan perempuan, saya berjanji… saya akan menawarkan bantuan kepadanya. Bukan karena saya menganggap laki-laki itu lemah/ tidak mampu berdesak-desakan, tapi karena untuk membantu dia menjaga dari hal-hal yang tidak diperbolehkan. Sebagaimana yang tadi saya alami, Ketika saya berharap bantuan, bukan berarti karena saya lemah, atau tidak mampu. tapi lebih pada keadaan dan suasana yang tidak memungkinkan.
Kembali pada bis, selama ini saya belum pernah sekalipun naik bis trans jogja. Tapi setidaknya saya minimal 1 kali dalam sebulan selalu naik bis solo-jogja dan solo-semarang. Disana, seringkali saya temui acara desak-desakan antar penumpang. Terutama pada saat-saat menjelang weekend. Pernah suatu ketika, saya melihat kejadian yang membuat saya geram. Kebetulan saat itu saya dalam posisi orang yang beruntung, karena dapet kursi. Tiba-tiba ada seorang ‘mbak’berjilbab besar, sebut saja akhwat yang tidak mendapatkan kursi dan dia berdiri didekat kursi saya. Mbaknya memang bisa dibilang cukup cantik. Akan tetapi, yang berdesak-desakan disekitar mbak tersebut kebanyakan laki-laki (yang suka usil). Saya tau persis bagaimana mas-mas tersebut melakukan hal-hal yang tidak sopan kepada si’mbak’. Mungkin perlakuannya memang hanya sebatas iseng, tapi tetap saja sebagai sesame perempuan saya ikut geram.
Nah, seandainya waktu itu saya bukan seorang perempuan, tapi laki-laki, tentu saya akan memberikan kursi saya untuk si ‘mbak’. Bukan karena ‘mbak’nya lemah, dan tidak kuat berdiri. Tapi untuk menghindarkan ‘mbak’nya dari perlakuan iseng para penumpang lain yang berdesak-desakan dengan prosentase sebagian besar laki-laki. karena saya yakin, kalau hanya untuk berdiri di bis, ‘mbak’ nya pasti kuat. Tapi untuk menghindar dari desak-desakan dengan laki-laki, ‘mbak’ nya butuh bantuan.
yah… mungkin ini Cuma pendapat saya saja. Bisa diterima, bisa juga ditolak. Yang jelas, pemberian bantuan itu tidak selamanya didasarkan karena orang yang kita bantu dianggap lemah. Laki-lakipun saya yakin bakal butuh bantuan perempuan, pada kondisi-kondisi tertentu. Intinya.. sebagai manusia memang harus saling bantu-membantu. He2….




hmm, mungkin saya bisa beri tanggapan gini, memang niatan orang dalam memberikan bantuan kepada orang lain akan berbeda. yang saya maksudkan dalam tulisan saya adalah ketika bantuan diberi karena persepsi si laki-laki si perempuan tidak mampu untuk melakukan hal tersebut dan si laki-laki lebih mampu. jadi memang masalahnya adalah di niatan si lelaki. jika bantuan diberikan karena si lelaki berfikir untuk menghindari madharat, misalnya perlakuan tidak sopan, maka saya dukung dan saya kira walaupun bertentangan dengan faham kesetaraan gender, tetapi tidak bertentangan dengan faham keadilan gender. tapi kalo dipandang dari segi kesetaraan gender, saya pikir langakah menolong untuk menghindari madharat tersebut tidak dapat diterima. karena persepsi awalnya adalah mbak tersebut tidak mampu mengelakkan segala godaan lelaki mata keranjang dan lelaki dipandang lebih mampu mengelakkan godaan perempuan mata keranjang. hehehe, ngawur ya? besok diskusi lagi, insyaAlloh.
tambahan, terus terang saya jadi teringat kisah musa loh di kisah antum tadi, hehehe, robbi ini bima anzaltani min khairin faqier.
tambah lagi, sebagian isi ceritamu sy jadikan materi di tulisan saya ya, dikutip. boleh ya…
Kadang pertolongan tdk bisa diartikan sebagai pertolongan, malah dianggap hal yang negatif…
Pola pikir yg entah kenapa ada saja terjadi dlm masy…
Mungkin bener juga kata nabi Muhammad, bahwa Agama adl Khusnul Huluq. Kita blm bisa mencapai pemahaman yg baik thd agama sebelm mampu mengaplikasikannya dlm perilaku kita..
Ketika seseorang, katakanlah seorang bintara, sedang duduk kemudian datang seseorang lain dengan pangkat yang lebih tinggi. Jika sang bintara memberi tempat yang semula didudukinya, apakah berarti bintara itu menganggap atasannya itu lebih lemah? Pastinya tidak.
Orang yang hidup berkelompok pasti terikat dengan sistem nilai. Sistem nilai itu yang menjadi acuan sesuatu itu baik atau buruk. Sesuatu yang dianggap baik akan selalu dikejar, dan yang dianggap buruk akan ditinggalkan. Yang menyimpang dari nilai-nilai yang dianut bersama biasanya akan dikucilkan. Memang, ada nilai-nilai tradisional yang sudah seharusnya dihilangkan. Anak lelaki lebih mulia dari perempuan, misalnya, merupakan nilai yang tidak layak dipertahankan.
Kaum muslimin/muslimat seharusnya hidup dengan sistem nilai yang mengacu kepada Al Quran. Bahwa seseorang belum mampu menerapkannya secara utuh (seperti ihwan yang cuek saja
) ) itu soal lain. Tapi, akan sangat aneh kalau seseorang mengaku Islam, tetapi dengan sadar dan bersemangat menolak sistem nilai yang mengacu kepada Al Quran, dan malahan memilih sistem nilai yang bertentangan.
bukankah menolong itu ibadah ???????
ya kalau mau menolong, menolong saja. menolong itu harus ikhlas. bukan karena yang mau ditolong itu wanita atau pria. kalau orang itu memang membutuhkan pertolongan, apa salahnya kalau kita bantu, betul tidak?
pertimbangan orang yang mau ditolong itu karena dia wanita, jadi sebuah pertimbangan yang ga material (kayak dah jadi auditor aja ada pertimbangan yang material dan ga material, ga nyambung, he..he..)
Dalam contoh kasus yang dipaparkan tidak selamanya bantuan itu mulai dari laki-laki. Sebagai contoh katika antri mau mengambil PC yang mana kebanyakan laki-laki. Dari sisi laki-laki kalau perempuan tidak minta tolong dirasa perempuan itu mampu melakukan sendiri dan kadang kalau laki-laki menawarkan bantuan kadang dianggap sok pahlawan, sok pengertian, sok alim atua apa.
Untuk itu kalau dirasa keamanan atau kenyamaman (perempuan) terganggu jangan segan minta bantuan kepada laki-laki bila yang dapat membantu hanya laki-laki.
Kalau menunggu rasa pengertian laki-laki ya. siap-siap aja gigit jari karena umumnya laki-laki itu memiliki akal 9 tapi perasaan cuma 1 atau secara ektrim laki-laki itu tak berperasaan, seklaikan dari perempuan akal 1 perasaan 13.