curhat n pelampiasan isi hati

berdakwah kepada orang-orang terdekat

Posted in islam by qolbiyati muthmainah on April 28, 2008

Berdakwah kepada orang-orang terdekat terkadang lebih sulit daripada berdakwah kepada orang-orang yang baru saja kita kenal. Pernyataan diatas memang benar adanya. Bahkan naabi Muhammad pun dakwahnya justru lebih bisa diterima di Madinah daripada di Makkah yang notabene masih dekat secara kekerabatan, suku, maupun kampong halaman. Hal ini juga yang mungkin menjadi salah satu alas an saudara-saudara kita di jama’ah tabligh untuk ‘khuruj’ dan jaulah keluar kota dan berkeliling dari satu masjid ke masjid yang lain diluar daerahnya dalam rangka berdakwah.

Konon sahabat nabipun ada yang karena keislamannya, ibunya sampai mengancam tidak akan makan dan membiarkan dirinya sakit-sakitan sampai anaknya bersedia kembali memeluk ajaran nenek moyang dan keluar dari islam. Tantangan yang luar biasa…

Menghidupkan budaya AMAR ma’ruf nahi Munkar dan fastabiqul khoirot dilingkungan internal dengan tanpa menjadikan interaksi sesame anggota menjadi kaku merupakan sebuah tantangan tersendiri. Kedekatan terkadang menghalangi seseorang untuk saling menegur karena ada perasaan sungkan atau segan. Namun, bukan berarti karena kedekatan tadi lantas menjadi penghalanag untuk saling mengingatkan. Ketika dalam sebuah komunitas sudah dibangun komitmen untuk bersama-sama maju bergerak, maka sudah menjadi kewajiban untuk saling meluruskan jika ada yang melenceng.bagaimanapun juga, teman yang baik bukanlah teman yang selalu menuruti kemauan kita, tapi teman yang bisa mengingatkan disaat kita lalai. Ada kata-kata bijak, ungkapkanlah kebenaran, meskipun itu pahit.

“Dakwah paling efektif adalah dengan teladan”. Perkataan ust. Adian husaini ini mungkin bisa menjadi salah satu cara yang ditawarkan. Teladan….yah, dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Ibda’ binafsika. Perbaiki diri terlebih dahulu sebelum mengajak orang lain, sebagaimana firman ALLAh : ” Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka “ (at-Tahriim ; 6)

Setelah memperbaiki diri, selanjutnya adalah mengajak orang lain. dilingkungan internal. Perasaan ‘pekewuh’, sungkan, segan, dan sejenisnya pastilah ada. Namun perasaan semacam itu bukan justru menjadi penghalang untuk tetap menghidupkan spirit amar ma’ruf nahi munkar dan fastabiqul khoirot. Tentu saja dalam proses ajak mengajak ini, tetap dengan menggunakan bahasa-bahasa yang halus dan memperhatikan adab sopan-santun. Bahkan ALLAh pun telah mengajarkan cara-cara untuk mengajak orang lain sebagaiman yang termaktub dalam firmannya : serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (An-Nahl ; 125).

Pencerahan…. Sebuah kata yang mudah-mudahan benar-benar bisa diamalkan. Dari pencerahan akan timbul kesadaran. Dari kesadaran akan timbul semangat untuk beramal. Ketika seseorang telah mendapatkan pencerahan, alangkah baiknya jika pencerahan itupun ditularkan kepada orang-orang disekelilingnya agar semuanya bisa tampak cerah. Dengan demikian ‘fastabiqul khoirot’ yang selama ini menjadi slogan yang selalu didengung-dengungkan pun dapat terimplementasikan..

Fastabiqul khoirot….

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Zulfi said, on April 29, 2008 at 4:12 am

    Memang kita harus saling mendukung.
    Bahkan, Khalifah Umar bin Abd Aziz pun memulai tugas kekhalifahannya sewaktu diperingatkan sendiri oleh putranya akan arti pentingnya efektifitas waktu, karena kematian itu dekat.

    Subhanallah, beliau pun menjelma menjadi khalifah yg melegenda walau masa baktinya tdk lebih dari 3 tahun..

    semoga kita dapat meneladani beliau.. amien


Tinggalkan Balasan