puisi arsitektur 3

23 04 2008

Lantaran aku punya rasa dan nalar
Aku pinangkan kadar
Iklim kehidupan
Desa tenganan

Lantaran aku punya rasa dan nalar
Aku tegaskan kekaburan
Hiruk-pikuk kehidupan
Desa jimbaran

Tradisi ternyata tak pernah membuka pintu
Yang mudah disentuh
Tidak juga oleh industri pariwisata
Yang telah asyik menumpuk dosa

Lihatlah situasi kini
Objek-objek wisata Bali
Telah korbankan lingkungan tanpa disadari
Untuk turis-turis beruang junki

Tenun gringsingan tenganan dua arah
Berharga ratusan ribu rupiah
Dijajaka oleh Ni Luh berkaos usang lusuh
Didalam arsitekturnya yang kain rapuh

Sumber air minum rakyat kecil ribuan jiwa
Hanya dipakai untuk kolam renang belaka
Mereka rengkuh kesenangan tanpa nurani
Itu dosa social yang paling hakiki

Padahal………

Udara yang dihembuskan
Adalah hasrat untuk bertahan
Untuk menghantar pesan kepuncak wingit
Dilangit, dilangit
Yang kabur batas terik, dan dingin menggigit

Padahal……….

Seluruh urat dan nadi yang lantur
Adalah tenaga
Yang siap menaklukkan irama
Tanpa sumber skala karena niskala
Dari suwungnya suara
Menuju arsitektur nusantara

Mengapa kita tidak belajar?
Meliukkan gerakan hidup
Dirongga terbuka
Yang tidak selalu memberi kesempatan
Menghindar dari lelah ketiadaan

Sudiarto aly. Lingkar pena puisi-puisi cyber-airner. 1999


Tindakan

Information

Satu tanggapan

8 05 2008
nuramaya

aku menggeliat dalam ruas kaku
tak apalah aku mengeras
dalam raga
tapi takkan pernah ku luluhkan jiwaku
untuk lari dari takdir Mu….

Tinggalkan komentar