curhat n pelampiasan isi hati

puisi arsitektur

Posted in architecture by qolbiyati muthmainah on April 22, 2008

Aku berjuang untuk arsitektur nusantara
Memberi nama, menggali kandungan makna
Namun aku saksikan kata sia-sia
Kata arsitektur adalah perjuangan
Yang tak perlu lagi diperjuangkan

Aku berjuang menguak massa
Mengerat sejarah, menata serpihan abad
Namun aku saksikan
Rinupa beku yang menakutkan
Menyapa dengan wajah dingin

Aku berjuang diantara jutaan lainnya
Mengerat bumi, menata serpihan terra
Namun aku saksikan
Kami belum menuai betah arsitektur
Yang dapat disebut pikabetaheun

Aku sebatang kara tanpa tanah pusaka
Bergulat dalam sejarah, kata atas landas fakta
Namun kita saksikan
Kita terbelenggu karena
Kealpaan kita sendiri

Ternyata aku tahu krisis
Dalam sengau plesetan birokrasi
Ujud yang tesusun dari
Kekuatan kendali cyber tanpa batas
Larut dalam embun pagi

Ternyata aku hanya merancang mimpii
Bicara dalam ceracau
Tak mengerti bahasa sendiri
Kau pun hanya lakon tanpa ceriteme lagi
Sesosok bayangan dalam mimpi

Ternyata aku pembangun yang sering termangu
Didepan raut dengan latar langit yang semakin kelam
Aku tak lagi mengenalmu, kaupun tak lagi mengenalku
Padahal kini dan esok lusa
Kita harus ngawangun ki nusantara

Sudiarto aly. Lingkar puisi cyber-airner. 1999

Suara-suara itu
Begitu menggemuruh
Bukan suara kemarin dulu
Suara-suara galau
Suara kita yang bertahan sepanjang umur

Bukan, bukan suara itu
Yang begitu nyaring namun keruh
Berdesak dan berebut
Ingin menjadi tedepan
Bertahan kukuh menggenggam status quo

Suara-suara itu
Hangar binger ajukan tanya
Namun bising tanpa arah
Suara-suara itu tinggalkan sapa santun
Dalam keheningan sumur tanpa dasar
Masihkah kita mendengar sapa lembutnya?

Gumam perlahan yang berkata
Inilah saat untuk kembali kerumah sendiri
Yang nyaman pikabetaheun tanpa damprat dan terror
Tanpa menuai serpih angin kearifan primordial
Meraih kehidupan jujur dan tulus
Masih adakah tempat kembali?

Suara-suara televisi lompat melengking
Suara-suara rumah eklektik puing masa lalu tanpa keusangan
Suara-suara bayangan dari tanda palsu
Suara-suara yang tak jelas lagi semu nyata
Suara-suara tanpa almanac dan permainan tanda
Masih dapatkah kita menuai makna?

Suara-suara dari ruang cyber
Suara-suara dari ruang yang katanya semu
Suara-suara yang terucap lugas pedas
Suara-suara itu berbaur dengan suara nyaring ruang nyata
Suara-suara yang tak teruji kebenarannya
Masih dapatkah kita menuai makna?

Suara-suara tanpa nada
Suara-suara terucap dalam rasa dan estetika
Suara-suara tercipta dalam ruang
Suara-suara lahir dalam rupa dan wujud
Suara-suara yang terkekang dalam budaya yang tenggelam
Masih dapatkah kita menuai makna?

Tanya itu begitu menggoda
Siapa aku? Dimana kampungku?
Adakah arsitektur nusantara baru?
Waktu kembali jelajahi diri
Singkapkan kabut untuk melihat jernih

Sudiarto aly. Lingkar pena puisi cyber-airner. 1999

Bertahun-tahun dalam kebekuan budaya
Kreativitas sama dengan subversi
Lahirlah anu ini itu village
Pinggir kali disebut riverside
Selebritisasi merambah dimana-mana

Budaya masyarakat konsumen semakin merajalela
Khasiat bukan pada gehalt tapi gestalt belaka
Ruang dan bentuk bukan lagi ungkap makna
Hanya asal baru semata
Kita kehilangan pegangan makna

Kita tak lagi punya selera
Arsitektur adalah fashion saja
Arsitektur adalah realitas virtual
Lagaknya adalah gaya yang berganti setiap musim
Selera konsumen tergantung iklan

Konsep tinggal kata angan-angan kosong
Keliaran melindas kreativitas
Kreativitas tak lain keliaran Dionysus
Tapi ada yang berkata
Kita sedang menuju budaya baru
Apa kabar indonesiaku?

Budaya feodal dialam demokrasi
Selewengan makna bahasa luhur
Kebudayaan adalah kebudayaaan lestari
Maka arsitekturpun mati
Dapatkah lahir Arsitektur Nusantara Baru?

Bermunculan identitas artifisual
Fragmen-fragmen comotan masa lalu
Manakah kenusantaraan itu?
Kita tak lagi punya nama
Perlu sintesa baru

Sudiarto aly. Lingkar pena puisi cyber-airner. 1999

Lantaran aku punya rasa dan nalar
Aku pinangkan kadar
Iklim kehidupan
Desa tenganan

Lantaran aku punya rasa dan nalar
Aku tegaskan kekaburan
Hiruk-pikuk kehidupan
Desa jimbaran

Tradisi ternyata tak pernah membuka pintu
Yang mudah disentuh
Tidak juga oleh industri pariwisata
Yang telah asyik menumpuk dosa

Lihatlah situasi kini
Objek-objek wisata Bali
Telah korbankan lingkungan tanpa disadari
Untuk turis-turis beruang junki

Tenun gringsingan tenganan dua arah
Berharga ratusan ribu rupiah
Dijajaka oleh Ni Luh berkaos usang lusuh
Didalam arsitekturnya yang kain rapuh

Sumber air minum rakyat kecil ribuan jiwa
Hanya dipakai untuk kolam renang belaka
Mereka rengkuh kesenangan tanpa nurani
Itu dosa social yang paling hakiki

Padahal………

Udara yang dihembuskan
Adalah hasrat untuk bertahan
Untuk menghantar pesan kepuncak wingit
Dilangit, dilangit
Yang kabur batas terik, dan dingin menggigit

Padahal……….

Seluruh urat dan nadi yang lantur
Adalah tenaga
Yang siap menaklukkan irama
Tanpa sumber skala karena niskala
Dari suwungnya suara
Menuju arsitektur nusantara

Mengapa kita tidak belajar?
Meliukkan gerakan hidup
Dirongga terbuka
Yang tidak selalu memberi kesempatan
Menghindar dari lelah ketiadaan

Sudiarto aly. Lingkar pena puisi-puisi cyber-airner. 1999

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. alhaddad said, on April 22, 2008 at 3:28 am

    panjangnyaaaaaaa….

    nice blog…

  2. Zulfi said, on April 22, 2008 at 4:16 am

    Waa… sekarang ada rubrik puisi juga…
    tapi, kok panjang banget, belum sempet baca…

    hidup puisi

    *calon penyair*

  3. srisunarti said, on Mei 23, 2008 at 6:48 am

    puisi Anda cukup bagus.gmana dengan puisi-puisi saya? KUNJUNGI SAYA DI http://www.srisunarti.wordpress.com

  4. srisunarti said, on Januari 19, 2009 at 2:33 pm

    hai, blogger… kunjungi blog http://www.srisunarti.wordpress.com
    ada Puisi-puisi Palestina, lho.Selamat mengapresiasi.


Tinggalkan Balasan