beratnya tanggungjawab ‘arsitek’


Terkadang aku masih tidak paham dengan ‘arsitektur’. Suatu ketika, desain yang indah, bernilai seni tinggi, namun ternyata tidak cocok dengan selera pasar. Disatu sisi, ia mendapatkan pujian, tapi disisi lain, iapun mendapat cemoohan. Satu kasus misalnya, pasar seni gabusan dibantul.
Desainnya mengagumkan. Arsiteknyapun bukan orang sembarangan. Beberapa kali desain tersebut mendapat penghargaan sebagai karya terbaik dalam pandangan masyarakat arsitektur. Tapi….apa yang terjadi dilapangan? Puaskah para penjual yang menempati bangunan tersebut dengan desain yang sedemikian eloknya? Nyamankah mereka beraktifitas disana?
Memang arsitek juga manusia. Seringkali terdapat hal-hal kecil yang dilupakan namun bisa berakibat fatal pada desain yang dibuatnya. Membeli hasil kerajinan ataupun kenang-kenangan khas local bukanlah tujuan utama para wisatawan dan turis ketika melancong. Aktifitas semacam itu biasanya hanya merupakan sambilan, yang bisa dilakukan sembari menikmati perjalanan pulang dari obyek wisata . sementara pasar seni gabusan dengan jarak dari jalan raya yang lumayan jauh, dan lokasinya dengan obyek-obyek wisata yang tidak terdapat interkoneksi khusus,wajarlah jika pasar seni gabusan menjadi sepi pengunjung.
Desain yang bagus, bentuk yang indah, seakan menjadi paradox dengan wajah-wajah suram para penjual yang mengharap pembeli yang tak kunjung datang. Dengan biaya sewa tempat yang lumayan tinggi, namun tingkat pendapatan yang tidak sebanding membuat para penjual semakin banyak yang mengajukan complain.
Hingga suatu ketika, pada suatu acara wisata besar-besaran, para penjual tersebut diperbolehkan untuk membawa dagangannya keluar pasar. Merekapun berjualan ditepi-tepi jalan yang dilewati oleh wisatawan. Tak disangka, pendapatan mereka meningkat drastis. Sangat jauh jika dibandingkan dengan hasil penjualan dipasar. Kegembiraan terpancar dari wajah-wajah para penjual…..
Kini, giliran arsitek yang menekuk wajah. dimana peran arsitektur dalam menciptakan lingkungan dan space yang berkualitas? Jika tanpa arsitektur justru kegiatan perekonomian mereka menjadi lebih baik.
Behaviour…dan behaviour………satu hal yang harus selalu diperhatikan setiap kali akan mendesain. Apapun desain yang akan dihasilkan haruslah mengacu pada behaviour orang yang akan menggunakannya. ingatkah kisah arsitek besar Frank Lloyd Wright yang selalu berusaha untuk tinggal bersama kliennya selama bbrp hari untuk mengetahui kebiasaan klien yang akan dia desainkan rumah tinggal. Sedemikian besar kesungguhan Wright dalam mempelajari behaviour calon pemakai desainnya. bukan berarti dengan demikian arsitek seperti di-dikte dalam proses perancangan. Tapi, sebagai acuan agar desain yang dihasilkan dapat diadaptasikan oleh penggunanya.. Bukankah ketika arsitek akan melarang seseorang untuk melintasi space tertentu tidak harus dengan ‘pagar’ ? bisa diganti dengan kolam, yang menjadikan pejalan kaki tak bisa melewatinya. Atau dengan cara-cara yang lainnya….
Menciptakan ‘alternatif’….. itulah kelebihan seorang arsitek. Dia harus dituntut selalu memberikan win-win solution dengan desain yang dihasilkannya. Desain sesungguhnya berarti PENYELESAIAN MASALAH. Ketika dengan desain justru masalahnya bertambah, maka desain itu perlu dipertanyakan.
Betapa berat menjadi arsitek……. (apakah aku mampu???)
Kutulis disela-sela mengerjakan tumpukan tugas yang tak kunjung habis….




blog berkesan, teruslah menulis.
salam dari arsitek
kuncinya ada pada seni kreatifitas…..walaupun saya bukan orang arsitek…tapi kalo nanti buat rumah, ingin buat designnya sendiri aja…undang2….insya Allah
Percaya deh…belajar ‘ngarsitektur’ itu mengasyikkan walaupun melelahkan…belajar segala hal mulai dari matematika, filsafat, psikologi, sejarah, lingkungan, budaya, sastra dan lain-lainnya…menjaga keseimbangan otak kiri dan otak kanan…akan sangat terasa gunanya di dunia kerja…:)-sarjana arsitek tapi belum ‘ngarsitek’-
aku due blog kunjungi blog ku tapi jeh kosong coz msh baru
itu betul dik qolbi. emang berat jadi arsitek. beratnya karena mikir banyak hal yang bersentuhan dengan banyak manusia dengan banyak laku yang berbeda-beda, dengan persoalan dan solusi yang juga nggak bisa sama. tapi jadi arsitek konon menyenangkan karena kita jadi banyak tahu. selamat berjuang.
yup emang desain kadang gak co2k dg fungsi. omong2 ttg pasar seni gabusan, ada lomba ngeblog ttg pasar seni gabusan dan potensi kerajinannya. syarat ckp mudah peserta diminta mengirim 2 posting/artikel trus dikirim ke info@bantulcraft.com disertai email jg identitas diri. tulisan diterima panitia paling lambat 30 juli 2008. disediakan 3 buah hp & flashdisk utk 5 orang pemenang.
memang berat kerja arsitekturitu. dalam kuliah arsitektur saya pun masih mengambang. bimbang. mampukah?
pengen jadi arsitek kaya apa?gak berani mikir…
arsitek yang ngasal copi paste karya orang laen dan gak ada identitas, yang penting dapet duid.
mari kita contoh arsitek ridwan kamil yang sedikit menyelamatkan kota…**dateng seminarnya kemarin kan mbak?hehe.
-arsitek yang menyelamatkan lahan yang kian hari tak ada tempat untuk manusia bernafas…sumpek. argh…