curhat n pelampiasan isi hati

save jogja heritage !!!

Posted in architecture, opini, urban design by qolbiyati muthmainah on April 8, 2008

Beberapa hari yang lalu (sabtu,5april2008), selepas survey pemukiman didaerah sorosutan aku sengaja menyempatkan diri untuk berkunjung ke kota Gede. Bukan untuk hunting kerajinan perak, tapi sekedar menikmati kenangan-kenangan masa lalu di serambi masjid, dilorong-lorong kampong, dan pasar kota Gede.

Setahun yang lalu aku mendapatkan kesempatan kuliah lapangan disana. Mendeteksi seberapa parahkah rumah-rumah joglo yang umurnya sudah ratusan tahun ketika terkena bencana gempa. Mungkin bagi teman-temanku yang lain, tidak ada yang istimewa dengan kota gede. Masjid agung nya pun kalah indah jika dibandingkan dengan masjid agung Kauman. Lorong-lorongnya yang hanya 1-2,5 meter sangat tidak nyaman dilalui kendaraan. Ditambah lagi sisa-sisa reruntuhan gempa yang terkadang menimbulkan sedikit perasaan trauma.

Tapi berbeda denganku yang meski bahasa jawaku sangat belepotan, sesungguhnya aku sangat interest dengan peninggalan-peninggalan kebudayaan jawa yang diwariskan nenek moyang. Banyak hal yang membuatku kagum dan bangga membaca kisah-kisah mereka dalam dongeng maupun buku sejarah. Waktu SD, ayahku sangat hobby membaca cerita-cerita silat karangan SH. Mintardja seperti API DIBUKIT MENOREH, NOGOSOSRO DAN SABUK INTEN, TANAH WARISAN, sampai suramnya baying-bayang dan sayap-sayap yang terkembang yang kini masih menjadi cerita bersambung diharian KR. Hobby itu ternyata menular kepadaku. Bahkan membuatku sampai terbayang-bayang kehidupan masa lalu. Berbeda sekali dengan film-film silat ditelevisi yang cenderung meyorot kearah kekerasan, hiperbolis dan mengada-ada.

Karangan-karangan SH. Mintardja justru menggambarkan kehidupan social masyarakat pada waktu itu apa adanya. Suasana pasar, sawah, bahkan hingga detil arsitektur rumah maupun balai desa nya pun bisa tergambar dengan jelas meski hanya lewat kata-kata. Tak heran, ketika pertama kalinya aku berkunjung ke kota gede, dipikiranku bermunculan sosok-sosok dengan pakaian khas jawa, bersliweran. Ketika duduk diemperan masjid agung kota gede, seakan-akan ada ki patih mandrake yang sedang bercakap-cakap dengan pangeran adipati anom didepanku. Ketika berjalan kepasar, ada wajah-wajah sekar mirah dan roro wulan yang sedang mencari kain lurik. Ketika lewat warung, terbayang glagah putih sedang minum wedang sere dan menikmati bothok mlandingan dengan sepiring nasi megana. Apalagi waktu aku berjalan kaki didekat sendang (tempat pemandian), semakin kuat bayangan-bayangan cerita itu dikepalaku. Wajarlah kalau teman-temanku menjuluki “ qolbi, kamu itu terlambat hidup”.

Yah…terlepas dari khayalan-khayalanku tentang kehidupan masa lampau, aku hanya berharap sebutan bahwa JOGJA adalah kota budaya itu bukan suatu hal yang main-main. Bahkan, tahukah anda kalau JOGJA itu termasuk “a member of the league of world historical cities” yang menunjukkan bahwa JOGJA sejajar dengan ROMA, TOKYO, PARIS, dan kota-kota bersejarah didunia lainnya. Tetapi, semakin hari aku berada di jogja, aku merasakan nilai-nilai budaya mulai terkikis. Maraknya pembangunan mall, pengalih fungsian bangunan-bangunan bersejarah, bahkan tidak sedikit pula yang dihancurkan tanpa rasa berdosa kemudian langsung diganti dengan bangunan baru yang katanya beraliran modern, dan lain-lain. Itu baru masalah fisik, yang nonfisik pun tidak kalah punah. Permainan-permainan rakyat semacam gobag sodor, egrang, benthic, juga mulai tergusur dengan play station, dan sejenisnya.

jika bukan kita yang bangga akan kebudayaan kita sendiri, jika bukan kita yang melestarikan kebudayaan yang telah diwariskan nenek moyang, jika kita malah terlalu sering ‘silau’ dengan gemerlap kebudayaan-kebudayaan asing, maka janganlah marah jika ada Negara lain yang akhirnya mengambil alih hak cipta. (buat malaisya…aku tak bermaksud menyindir, jadi jangan marah,ya…. J )

SAVE OUR HERITAGE!!!!

HAMEMAYU HAYUNING BAWONO!!!!

SANGKAN PARANING DUMADI!!!!

7 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. angscript said, on April 8, 2008 at 9:01 am

    Yah, Jogja memang kota budaya walaupun waktu sepertinya juga membawa Jogja menjadi kota Buaya. Mungkin terkesan ada sinisme, namun ingat kawan, kapitalis lagi berkuasa dan modernisasi dan globalisasi jadi bahan bakar perubahan Jogja. Aku ingat buku Belajar Nakal-nya Adhe yang bercerita tentang Jogja dengan segala isinya. Semuanya bisa ditemukan di Jogja. Dan Jogja pulalah yang mempertemukan berbagai budaya bangsa ini. Tabik

  2. newbie said, on April 8, 2008 at 9:24 am

    sip, pengalaman memang besar ya…

  3. dini said, on April 9, 2008 at 12:22 am

    fotonya keren banget tuhhh

  4. jarwadiku said, on April 9, 2008 at 1:19 am

    qolbi, maturnuwun sampun kerso tindak blog kulo nggih, kapan2 katuran mampir

  5. nurul said, on April 9, 2008 at 10:34 am

    thanks udah berkunjung ke lovejogja. indahnya jogja memang harus dijaga supaya keasliannya tidak hilang

  6. niez said, on Mei 30, 2008 at 5:05 am

    g bakalan hilank koq..
    lot’s of people really apreciated how wonderful JOGJA ituw..

    http://niezworld.wordpress.com/2008/05/30/why-i-love-jogja/

  7. leo said, on September 9, 2008 at 1:32 pm

    tu tugunya kok di balik ya

    Reply:
    iya….supaya kelihatan artistik (apaan tuch?!!)


Tinggalkan Balasan