curhat n pelampiasan isi hati

panggung untuk pengamen

Posted in opini, urban design by qolbiyati muthmainah on Maret 18, 2008

Hari ini aku dapat kuliah menarik tentang ‘teori dan konsep arsitektur kota’. Lagi-lagi dosenku, pak gunung dengan gaya khasnya mengispirasiku untuk semakin concern dengan permasalahan kota.
Satu hal yang menarik kali ini adalah ‘perwujudan Jogja sebagai kota Budaya’. Jika selama ini aku hanya memandang ‘kota budaya’ dengan pelestarian bangunan-bangunan bersejarah, konservasi kawasan kota lama, dan sejenisnya. namun,kali ini beliau mengajakku memandang dari sudut pandang yang berbeda. PENGALIHAN FUNGSI PENGAMEN DARI MUSISI JALANAN MENJADI PEKERJA BUDAYA.
Dalam hal ini, beliau menyoroti, betapa saat ini jogja memiliki pengamen yang sangat banyak dan tersebar dimana-mana. mulai dari perempatan lampu merah, didalam bis-bis dan angkutan umum, sampai pengamen door to door yang keliling dari satu warung ke warung yang lain. Tidak jarang diantara para pengamen itu yang mengganggu ketertiban jalan, bahkan mengganggu kenyamanan para pengguna jalan. Dan sampai saat ini, pengamen-pengamen itu masih saja berkeliaran dengan bebas dan semakin menjamur dimana-mana. masalahnya, dari pihak pemerintah sendiri, sepertinya belum ada usaha yang maksimal untuk menyelesaikan problem ini.
Nah, untuk mengatasi masalah diatas, konsep yang ditawarkan kali ini adalah MAKING A NEW CENTER OF ACTIVITIES. Yaitu dengan menyediakan suatu tempat, dimana sang pengamen benar-benar bisa mengekspresikan jiwa seninya sebagai musisi handal, yang patut dihargai. Harapannya, tempat itu mampu merubah persepsi negative terhadap pengamen yang selama ini hanya dipandang sebelah mata menjadi tempat yang menarik dan mampu membuat pengguna jalan tertarik untuk mengunjunginya dan bahkan berlangganan ketempat tersebut. sehingga orang yang lewat akan benar-benar menghargai pertunjukan si pengamen, dan si pengamen tidak lagi hanya dihargai dengan ‘recehan’ yang keluar karena terpaksa. Dengan adanya spot-spot ‘panggung pengamen’ yang didesain dengan bagus, diharapkan semakin menyemarakkan kota jogja dengan hiburan khas yang akan menguatkan jogja sebagai kota budaya.
<

‘panggung pengamen’ disini, tidak perlu didesain muluk-muluk dengan space yang besar. Tapi cukup sederhana dengan mengambil space kecil diarea pedestrian (yang didesain khusus). Cukup diberi sedikit ketinggian lantai dan penutup atap. Alternative desainnya bisa bermacam-macam, dan bisa dikembangkan. Bisa pula disandingkan dengan tenda-tenda pedagang kaki lima yang didesain khusus. Wah, jadi inget lagunya kla project:
Dipersimpangan jalan, ku terhenti…
Ramai kaki lima…menjajakan sajian khas berselera…
Orang duduk bersila….
Musisi jalanan mulai beraksi….
……Dst

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Bloggerchoky said, on Mei 7, 2008 at 7:42 am

    Ya memang banyak yang berpandang negatif dan paranoid terhadap pengamen. Saya mendukung bila dibuat tempat untuk berekspresi tapi juga bisa mendatangkan income. Baca tulisan saya di Bloggerchoky.blogspot.com tentang pengamen.


Tinggalkan Balasan