perjalanan menuntut ilmu
Prolog : Lagi-lagi lagunya UMAM ini sangat sesuai dengan kondisi yang aku alami. Masa-masa sulit ketika akan meninggalkan kampung halaman demi menuntut ilmu kepulau sebrang.
“Sudah takdir ilahi, menguji keimanan
Walaupun pahit berpisah, tabahkanlah hatimu
Selamat tinggal, ayah dan ibu
Relakan kepergianku….”
Bandara Domine Edward Osok, Sorong jam 15.00 WIT
Kucium tangan ayah dan ibuku serta adikku diruang tunggu Bandara Domine Edward Osok, Sorong. Senyuman manis berpadu dengan mata yang berkaca-kaca menghiasi wajahku. Kutatap satu persatu wajah orang-orang yang kucintai. Sepertinya, belum lama kita hidup bersama, kini harus berpisah lagi. Kutabahkan hatiku, kutahan airmata yang mendesak ingin segera keluar, lalu ku lambaikan tangan dan kujinjing tasku menuju antrian untuk boarding pass. Dari balik kaca ruang tunggu masih kulihat ayah, ibu dan adikku memandang kearahku. Tampaknya mereka tak ingin kehilangan kesempatan detik-detik terakhir menjelang kepergianku menuju pulau sebrang. Hingga akhirnya ketika bis bandara datang dan membawaku kearah pesawat yang akan kunaiki, merekapun membalikkan badan dan keluar dari ruang tunggu. Ayah, ibu, adikku…….relakan kepergianku. Sebelum pesawat take off, kusempatkan mengirim sebuah sms permohonan do’a dan ucapan terimakasih kepada mereka. message sent. Bismillah……kukencangkan sabuk pengaman, dan pesawatpun lepas landas, meninggalkan kampong halamanku ter’cinta’.
“Kupohon, restumu ayah….kupohon restumu ibu….
Untuk memulakan perjalananku ini
Pergiku untuk menuntut ilmu, menuju citaku yang satu…
“ILmu akhirat wajib dipelajari, bekalan untuk bertemu ILahi…
ILmu duniawi boleh dicari, panduan hidup untuk berbakti…”
Dipesawat, pikiranku masih terpaku akan indahnya hari-hari dimana aku bisa berkumpul dengan keluarga, berdiskusi, rekreasi, sampai bertengkar dan bermain bersama adikku. Rasanya kebersamaan itu ingin kuulang kembali. Kusadari, menuntut ilmu terkadang memang butuh pengorbanan dan kesungguhan. Pengorbanan untuk meninggalkan kampong halaman dan berpisah dari orang-orang yang dicintai. Mudah-mudahan kepergianku kali ini benar-benar diiringi niat yang tulus ikhlas demi menuntut ilmu. Dimana dengan ilmu itu aku akan bisa lebih bermanfaat bagi orang lain dan juga diriku sendiri. Amien. Aku teringat dengan sebuah kalimat yang diajarkan ustadzahku dipesantren dulu : KHOIRUNNAAS ANFA’UHUM LINNAAS (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfa’at untuk sesamanya). Dengan bekal ilmu, mudah-mudahan aku bisa mengamalkan ajaran ustadzahku itu. Amien…
“Ayah dan ibu…aku merayu…
Kepergianku jangan dirindu..
Kepulanganku jangan ditunggu..
Kerana syahid idamanku..”
Teks lagu UMAM ini tak bisa kurubah. Meskipun aku tidak yakin apakah aku akan mampu dengan mudah mengucapkan kata-kata itu didepan ayah dan ibuku. Entahlah, apakah aku benar-benar berharap untuk tidak akan kembali kekampung halaman, ataukah aku sudah benar-benar siap mengidamkan ‘Syahid’?. Tapi yang jelas, dengan lagu ini, aku menjadi bersemangat untuk semakin melaju. Aku semakin mantap meninggalkan kampong halaman untuk menuntut ilmu dipulau sebrang. Meski bayangan wajah orang-orang yang kucintai tak bisa kuhapus dari memori, bahkan tak terasa air mata mulai mengalir dipipi. Tapi tekadku sudah bulat. Kulayangkan pandangan mataku kearah jendela pesawat. pulau indah papua itu sudah tak lagi nampak. Berganti dengan Maluku, Sulawesi, kalimantan dan sebentar lagi aku akan landing di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. Sadarlah, aku sudah terlanjur pergi jauh. Apalagi yang kucari? apalagi yang kukejar? jika bukan cita-cita tinggi. Suara-suara ustadzahku dipesantren yang mengajarkan hadits-hadits tentang keutamaan menuntut ilmu terngiang-ngiang ditelingaku. “orang yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu, itu termasuk fii sabiilillah” begitu perkataan ustadzahku. Yah,jihad fiisabiilillah adalah jalan yang seharusnya ditempuh dan mati syahid sebagai cita-cita tertinggi adalah dambaan setiap muslim sejati.
“Dari jauh salam kukirim..
Untuk semua yang kutinggalkan…
Air mata jangan diteteskan…
Do’a restu yang kuharapkan…
Kepada Allah Rabbul izzati, hamba yang lemah minta dikasihi.”
Bandara Adi sucipto, Yogyakarta jam 18.00 WIB
Akhirnya….sampailah aku di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. Air mataku telah mengering. Wajahku kembali cerah. Hatiku sudah mantap. Sekarang, aku sudah sampai di pulau tujuan. Disinilah aku harus bersungguh-sungguh menimba ilmu. Ilmu agama, maupun ilmu-ilmu lainnya sebagai bekal perjalanan hidup didunia dan diakhirat nanti. Sekali lagi kata-kata mutiara yang diajarkan ustadzahku terngiang ditelinga :
MAN YAZDAD ‘ILMAN, WA LAM YAZDAD HUDAN, LAM YAZDAD ILLAA BU’DAN
“Barang siapa yang bertambah ilmunya, namun tidak bertambah petunjuk (Allah) kepadanya, maka sesungguhnya tidak ada yang bertambah kecuali hanya SEMAKIN JAUH (dari Allah).”
Sambil menunggu antrian bagasi, tak lupa kupanjatkan do’a, agar senantiasa diberi petunjuk sehingga ilmu yang nanti aku dapatkan tidak justru semakin menjauhkan diriku dari pada –Nya.
ALLAHUMMA INNII A’UDZUBIKA MIN ‘ILMIN LAA YANFA’, WA QOLBIN LAA TAKHSYA’, WA NAFSIN LAA TASYBA’, WA DU’AAIN LAA YUSMA’
ALLAHUMMA ANFA’NII BIMAA ‘ALLAMTANII, WA ‘ALLIMNII BIMAA YANFA’UNII, WARZUQNII ‘ILMAN YANFA’UNII
ALLAHUMMA INNI AS’ALUKA RIZQON THOYYIBAN WA ‘ILMAN NAAFI’AN WA ‘AMALAN MUTAQOBBALAN
RODLIITU BILLAHI ROBBA, WABIL ISLAAMI DIINA, WA BI MUHAMMADIN NABIYYA WA RASUULA. ROBBII ZIDNII ‘ILMA, WARZUQNII FAHMA,…..
AMIIN…….
tulisan lama yang diketik ulang (mengenang masa-masa dipesantren…)




Teringat juga 8 tahun lalu saat meninggalkan kupang.. sedih sangat sedih..
Tapi, akhirnya 3 tahun kemudian, bapak dan ibu ikut pindah pula ke magelang..
sekarang, rasa kangen dg kupang masih sangat besar. memori masa kecil takkan pernah terlupakan… semoga suatu saat bisa kembali ke sana lagi. Amien.. !!
Nice post… i like it..
WaDuuH KaaK..
BanYaK BangeT SiiY Yg nYeNtuH Hatiiiiiiiiiiiii
jadi kangen dg sorong nich..7 taon kerja dsana..
7 taon kerja di jefman.main bola kesamate,handling,pacaran,mancing dijembatan jefman.pokoke banyak de pengalamangue dijefman.jefman uda jadi apa ya skrg??apa jd pulau hantu??oh sukun kegemaranku..datanglah kau ke padang