Jogja, tempat ternyaman menuntut ilmu
Pengembara, mungkin sebutan itu lumayan cocok buatq, mungkin pula tidak. Terlahir dikota kecil, perbatasan klaten dan solo, yaitu delanggu, kemudian mengenyam masa kecil disebuah desa yang ‘kurang damai’ (bakalan, ampel, boyolali) hingga kelas dua SD. Setelah itu, terbang jauh hingga terdampar disebuah pulau diujung timur Indonesia,papua, hingga tamat MI tahun 1999. Memenuhi permintaan orang tua untuk mendalami ilmu agama, akupun meninggalkan papua, dan bertolak menuju Solo, Surakarta. Tepatnya ke sebuah pesantren yang terkenal sebagai sarang teroris, ponpes islam Al-mukmin, ngruki, sukoharjo. Selepas dr pesantren, Allah menakdirkanku melanjutkan sekolah ke Yogyakarta, dan Alhamdulillah aku masih bertahan untuk tetap tinggal dijogja hingga saat ini.
Awal2 menginjakkan kaki dijogja, aq cukup puas dan bahagia. Bagaimana tidak? Kota ini, terutama universitas tmpatku belajar nanti punya nama yg cukup mentereng. Awal awal masuk kampus, lmyn shock juga, krn senior2 justru menjelek2kan kampus yg akan jd tmpatku menuntut ilmu nanti. ‘aib-aib (kalo bisa dikatakan aib) seperti tdk adanya transparasi keuangan, biaya yg dianggap sangat tinggi dan tdk berpihak kpd rakyat, dst (entah faktanya benar atau tidak) didengung2kan dihadapan kami, selaku mahasiswa baru. Entah perasaan apa yg aku rasakan saat itu. Yg jelas, ada sedikit kekagetan. Bagaimana tdk, barussaja aq berbahagia, bisa diterima dikampus yg katanya (untuk masuknya aja susah, harus bisa mngalahkan pesaing2 dr seluruh Indonesia).bisa keterima disini, bagi beberapa org merupakan sebuah prestasi yg membawa sedikit kebanggaan dan kebahagiaan. Tapi, rasa itu tiba2 menjadi tersamar, ketika awal2 masuk kampus (dimasa2 orientasi ato inisiasi kampus) tiba2 kami disodorkan keburukan n kebobrokan yg ada disini. Alih-alih motivasi utk menjadi mhsiswa berprestasi, tp maba justru dicekok-I dengan ‘image-image’ buruk universitas, dan diprovokasi utk ikt serta melawan kebijakan2 rektorat.
Sbnernya, wkt awal2 jd maba, aq sempet terpengaruh jg dengan stigma2 yg diedarkan oleh senior ttg UGm sebagai univ gedhe mbayare, univ gedung manten, univ gawe mall, dst.sedikit kekecewaan muncul. Blm lagi cerita tmn2 dikampus lain yg masih murah suka membanding2kan dgn biaya disini. Huh, rasanya pengen pindah aja….sempet terbesit pikiran, ‘menyesal’ kuliah di UGM, dari luarnya aja bagus, ternyata stlh didalem bnyak bermasalah.
Tapi, apalah daya, aq udh terlanjur keterima disini, dan registrasi udh beres smua. Wal akhir, q paksakan menempuh kuliah disini, dan q mantapkan apapun yg terjadi. Toh kalo masalah biaya, lebih kepada orang tua (meski sbga org yg sdh berstasts mhsiswa, hendaknya mulai berpikir utk mandiri jg).
Awal2 kuliah, lmyn bersemngat. Fasilitas yg didpt, lmyn juga dgn bayaran yg qt setor. Kelas ber AC, hotspot dmn2, labkomnya jg lmyn. Studio, sedikit nyaman, lah. Meskipun kalo dibandingkan dgn univv lain, barangkali ada jg yg dengan jumlah spp yg sama, biisa mendapat fasilitas yg lebih baik. Tapi ingat, ini kalo qt hanya melihat pada masalah fisik.
Skrg, kalo qt melihat pada aspek2 nonfisik, barulah qt merasakan, bahwa uang yg qt bayar sebenrnya gak ada apa2nya jika disbanding dgn yg akan qt dapat. Pertama, orang2 keren, yg tdk mungkin kita jumpai ditempat lain (disini, terlalu bnyak org2 pintar, dengan pemikiran2 yg luar biasa. Kalo mau hunting, berburu ilmu kpd mereka, tdk perlu susah payah. Majlis ilmu, forum2 diskusi, jurnal2 , dan semangat menuntut ilmu begitu hiidup disini). Gak mungkin, sbagai sorg mahasiswa yg peka qt akan bersantai2 dengan bertopang dagu ato hnya berjalan2 ksana kmari tanpa tujuan, smntara tmn2 qt yg laen berdiskusi dengan sengit, berburu buku/ artikel2 diinternet, berlomba2 menulis karya ilmiah, dsb. Secara ototmatis, qt akan terpanggil utk ikut berkecimpung spt mrk, meski trkadng pilihanny bermacam2. Bagi yg merasadirnya ‘kritis’ dan suka ‘aksi’, disini juga bnyak memfasilitasi. Pergerakan mhasiswa bnyak terlahir dr sini. Bagi yg merasa dirinya lebih cocok mjd ilmuwan, bnyak klmpok2 riset yg tak kenal lelah nangkring dilab, dan masih bnyak lagi kegiatan mhsiswa, yg barangkali ditempat lain bisa qt temui, namun tak seindah dan se’berkualitas’ yg ada disini.
Menurut saya, iklim ini lah yg barangkali dijual ‘mahal’. Orang2 yg bersekolah disini mayoritas berasal dr golongan pelajar dgn kemampuan diatas rata2, yg punya rasa ingin tahu besar dan smangat belajar tinggi. Meskipun ditengah2 kuliah, tdk jarang qt temui mhsiswa 2 yg pindah haluan (maklum, jiwanya masih labil dan dalam taraf pencarian jati diri). Dari satu gerakan ke gerakan lain, atau dr satu proyek, keproyek yg lain.yah….tp ttp saja, mayoritas mahaisw disini adlh org yg berprinsip, punya cita2 tinggi. Ketika memilih sebuah keputusan, sudah dipertimbangkan matang2, shg berani menanggung konsekuensinya.
Org2 luar biasa, yg jarang kita temui bandingannya ditempat lain. Yah…..mungkin krn itulah,qt harus membayar sedikit agak mahal.
Dengan iklim sedemikian rupa, secara otomatis, seseorang bisa meningkat dengan cepat ‘kemampuannya. Akselerasi, mungki istilah yg cocok. Dengan demikian, alangkah ironis jika dengan lingkungan yg begitu kondusif dan bahkan sangat mendukung masih qt dapati mahasiswa yg tdk bersemngatt mengikuti kompetisi dan persaingan disekelilingnya yg kian hari kian sengit.bahkan blm ada keinginan utk bisa ikt berkarya sebaik2nya. Bagaimana dgn anda?




ha…ha…. jember juga nyaman mbak..?
eh websitenya IMMUGM kok simple amat…. di ramein apa…? biar yang datang merasa di kasih suguhan…
IMMUGM lagi sibuk apa???
menurutmu ada paradigma yang beda tidak..? antara kader IMM PTM dan IMM nonPTM…?