me and architecture
Hari ini hari puncak penilaian kualitas belajarku selama 5 semester di arsitektur. Lumayan harap-harap cemas juga, meskipun dari luar mungkin keliahatan cool, n calm(maklum, pada dasarnya aq bukanlah org yg ekspresionis, cenderuung TE-tanpa eksspresi-, malah)tapi sebenernya sedikit dag-dig-dug juga. Berangkat dengan pakaian yg lebih rapi dari biasanya, maket dipaper bag, dan sedikit gambar2 pendukung yg baru aja sempet q selesain tadi malem. Meski sedikit kurang pe-de, melihat tman2 yg lain begitu ‘wah’ produk desainnya, tapi kukuatkan langkah menuju ruang studio. Bismillah…..
Beberapa jam menanti kedatangan sang penguji, kuisi waktuku dengan melihat karya tman2 yng lain. Sungguh, aku menyadari betapa sangat kurang usahaku jika dibandingkan mereka. Baik dari sisi tenaga, pikiran, hingga budget, sangat jauh perbandingannya. Terlihat sekali gambrku yang hanya diprint A4 kemudian disambung2, kertasnya HVS pula, maketkupun hanya dari barang2 rongsokan sisa semester kemaren. Smentara tmn2 q….duh jangan Tanya, kertas glossy dengan printer laserjet, renderan yang matang, maket yang detil, pokoknya jauh de…yah…aq menyadari,selama ini hatiku memang blm sepenuhnya hadir disini. Aq masih setengah hati, bahkan kurang mungkin, untuk menjalani kehidupan didunia arsitektur. Meskipun, terkadang aq semangat ketika bertemu dengan hal-hal yang menarik bagiku,tapi tetap saja, arsitekturr masih blm mendapat tempat dihatiku.
Sungguh, arsitektur tidak pernah salah. Arsitektur tidak memusingkan. Justru ia sangat menarik, penuh tantangan, dan sangt mengasyikkan. Tapi….bagi orang2 yang memang berminat untuk mendalminya. Semakin mengenalnya, semakin penasaran dibuatnya. Tapi, lagi2 diriku memang aneh.aq sudah merasakan betapa indahnya arsitektur, betapa menariknya….tapi lagi2 aku tidak pernah bercita2 menjadi arsitek. Aq selama ini hanya menjadi peenikmat arsitektur. Aku bukan pencipta karya yang andal. Aku cenderung lebih suka menjadi komentator atas karya2 yang ada. aku cenderung lebih suka menjadi analis daripada mencetak bahan untuk dianalisa. Yah….begitulah aku. makanya, ketika tuntutan mata kuliah studio 5 datang uttk membuat hotel, akupun hnya mendesain sebisaku(tapi kuakui, memang kurang maksimal). Sekedar melepaskan kewajiban. Disaat org lain berharap mdpt nilai A untuk mata kuliah yg bobotnya 4sks ini, aq hanya menargetkan B, kalo bisa lebih alhamd bgt. Tp aq tdk berambisi utk mengejarnya. Aku lebih menghargai ‘proses’ pembelajaran yang aq dpt dr studio perancangan ini drpd hasil akhirnya. Yang kumaksud dengan ‘proses’ , tidak hanya proses yang kujalani saja. Tetpi, akupun mencoba memperhatikan bagaimana tmn2ku bekerja, menjalin hubungan dengan teman yang lain, membangun kompetisi yang sehat, saling memotivasi, berinteraksi dengan ‘klien’,memanaje waktu disela-sela proyek dan lomba yang juga menunggu date-line.yah…aq banyak mendapat pelajaran berharga dari mereka.dengan berbagai macam ilmu yg q dapat, aku berharap dapat membimbing adk2 angkatanku, teman2ku yg laen utk memotivasi mrk mendorong mrk utk bersemngat meraih cita2. Aq menginginkan mrk menjadi arsitek yang sukses,professional,bertnggungjawab, dan peduli lingkungan.sementara,cukuplah diriku saja yang yang menjadi ‘pengamat’ arsitek.
Mungkin orng-orang menganggapku bagaikan org yg tdk punya cita2 tinggi, tdk punya ambisi yg kuat, tdk mau menjadi ‘sang pemimpi’ seperti di novelnya andrea hirata. Tapi…aq memang sering berkelakuan ‘aneh’ disbanding teman2ku.sebenernya, Aq tetap punya cita2, aq tetap punya harapan, aq tetep punya mimpi….hanya saja, mungkin mimpiku berbeda dgn kbnyakan tmn2q. kalo orang lain bercita-cita menghasilkan bnyak karya, fenomenal, terkenal, dsb….aq justru ingin mengkaji arsitektur dari sisi yang berbeda. Aq penasaran, benarkah, karya 2 yng fenomenal itu mampu memberikan ketenangan, keindahan, dan yang lebih penting ‘kebaikan’ bagi lingkungan sekitarnya, termasuk manusia sebagai bagian daripadanya? Ataukah hanya sebagai wujud dari ego sang arsitek yang ingin mendapatnama?ingin diakui karyanya , diberi penghargaan, dan sebagainya.
Makanya, aku lebih kagum dan sangat interest membaca tulisan2 pak eko budiharjo ketimbang membuka2 buku biografi frank gehry, ataupun Daniel libeskind. Aku lebih tertarik mengkaji karya2 eko prawoto dengan cirri khas ‘lokalitas’nya ketimbang meniru2 preseden zaha hadid. Arsitek2 yang kukagumi, cenderung arsitek2 beraliran regionalis, seperti kenzo tange dengan style ‘jepang’nya, arata isozaki,…dan tentu saja arsitekk2 indonesia, spt yg q sebutkan diatas.
Meskipun label kuliahku arsitektur, tapi sesungguhnya ilmu yg kucari tdk sekedar arsitektur itu sendiri.tapi yang kucari adalah ‘ilmu’ yang bisa menjadikanku ‘lebih bermanfaat’ untuk orang bnyak. Jika dengan menjadi arsitek aku bisa lebih bermanfaat, mungkin pilihan itu akan aku jalani.tetapi, jika dengan menjadi seorang ‘bukn arsitek’ aq lebih bisa menebar manfaat, maka itulah jalan yg q pilih..tapi, setelah sekian lama berkecimpung, akupun menyadari bahwa arsitek memang kurang cocok denganku. Oleh karena itu, biarkan aq menyelesaikan studiku, belajar meskipun secara formal ‘arsitektur’, tapi nonformalnya banyak yang non-arsitektur. Suatu saat, jika bertemu denganku dalam keadaan diriku jauh dari arsitektur, doakanlah, mudah2an itulah yg terbaik untukku. Amin.




dunia ini terlalu indah untuk di isi dengan sebuah rasa pesimis, begitu kata seorang teman karena memang tak ada alasan untuk merasa tidak percaya diri, apapun yang kita lakukan dan kita cita2kan adalah sesuatu yang mulia dan bernilai ibadah bila semua itu bertujuan untuk mencapai ridho allah serta demi kemashlahatan umat. Sebab sebuah prestasi bukan hanya di ukur dari keberhasilan dalam bidang akademik saja, justru kita di katakan berprestasi bila menjadi seorang yang paling dibutuhkan oleh orang banyak dan paling bermanfaat bagi orang banyak, minimal buat orang2 yang kita cintai…
keren bgt sih loh…..
tulisan tanganya bagusii’…..liat dunk tanganya….
siapa sih loh…..
kenalan dunk……
yup arsitektur juga utk mencari ridha-Nya